CIPTAAN BERIKUTNYA

 


SETELAH MENCIPTAKAN SUSUNAN ALAM SEMESTA DALAM LOKA-LOKA
DEWA BRAHMA MENGISI DENGAN BERBAGAI MAHLUK

Menurut Śrīmad Bhāgavatam, setelah Brahmā menyusun alam semesta dan membagi berbagai loka, tugas berikutnya adalah menciptakan penduduk yang akan mengisi loka-loka tersebut. Proses ini berlangsung bertahap dan tidak langsung berhasil.

1. Brahmā menciptakan ketidaktahuan (avidyā)
Pada tahap awal, Brahmā menciptakan berbagai bentuk kegelapan batin:
        Tāmisra
        Andha-tāmisra
        Tamas
        Moha
        Mahā-moha yaitu:
    - rasa takut akan kematian,lupa dengan identitas sejati sebagai jiwa pelayan Tuhan,
    - rasa kepemilikan palsu,keterikatan pada kenikmatan dunia,
    - kemarahan karena prustasi, dengan demikian manusia akan betah untuk tinggal di dunia                  material
Namun beliau tidak puas dengan ciptaan ini karena tidak membantu perkembangan makhluk menuju tujuan yang lebih tinggi.

2. Menciptakan Empat Kumāra
Dari pikirannya lahirlah:
        Sanaka
        Sanandana
        Sanātana
        Sanat-kumāra
Brahmā meminta mereka memperbanyak keturunan. Namun keempat Kumāra memilih hidup sebagai brahmacārī selamanya dan menekuni bhakti serta jñāna. Karena itu penciptaan tidak berkembang melalui mereka.

3. Kelahiran Rudra (Śiva)
Ketika Brahmā merasa kecewa karena para Kumāra menolak menjalankan perintahnya, dari kemarahannya lahirlah Rudra.
Rudra mulai menciptakan banyak makhluk yang sangat kuat dan ganas. Brahmā kemudian memintanya menghentikan penciptaan itu dan melakukan tapa.

4. Menciptakan para Prajāpati dan Maharsi
Selanjutnya Brahmā menciptakan putra-putra yang akan menjadi leluhur berbagai makhluk hidup, antara lain:
        Marīci
        Atri
        Aṅgirā
        Pulastya
        Pulaha
        Kratu
        Bhṛgu
        Vasiṣṭha
        Dakṣa
        Nārada
    Mereka dikenal sebagai Prajāpati dan Maharsi.

5. Dakṣa dan para putrinya
Melalui Dakṣa Prajāpati, penciptaan berkembang pesat.
Dakṣa mempunyai banyak putri yang dinikahkan dengan:
        Kaśyapa
        Candra
        Dharma
        dan tokoh-tokoh lainnya.

6. Kaśyapa menjadi leluhur banyak spesies
Kaśyapa Muni menikahi banyak putri Dakṣa. Dari berbagai istrinya lahirlah:
    Aditi → para dewa (Aditya), termasuk Vāmana.
    Diti → para Daitya seperti Hiraṇyakaśipu dan Hiraṇyākṣa.
    Danu → para Dānava.
    Vinatā → Garuḍa dan Aruṇa.
    Kadru → bangsa naga.
    Surabhi → sapi dan hewan penghasil susu.
    Tāmrā → berbagai burung.
    Krodhavaśā → binatang buas.
    dan banyak spesies lainnya.
Karena itu Kaśyapa sering disebut sebagai salah satu leluhur utama berbagai makhluk hidup di alam semesta.

7. Munculnya manusia
Melalui Svāyambhuva Manu dan istrinya Śatarūpā, lahirlah keturunan manusia yang kemudian memenuhi Bhūrloka.
Setiap Manu pada masa berikutnya juga mengatur populasi manusia, dewa, dan makhluk lainnya dalam manvantara masing-masing.

Siapa sebenarnya yang "masuk" ke dalam tubuh-tubuh itu?
Menurut filsafat Vaiṣṇava, Brahmā tidak menciptakan jiwa (ātma). Jiwa sudah ada sejak kekal sebagai bagian dari Tuhan.
Yang Brahmā ciptakan adalah:
            tubuh,
            spesies,
            lingkungan kehidupan,
            dan sistem alam semesta.
Kemudian Tuhan (Paramātmā) menempatkan berbagai jiwa ke dalam tubuh yang sesuai dengan karma mereka.

Jadi urutannya adalah:
        Brahmā menyusun alam semesta dan loka-loka.
        Menciptakan para resi, Prajāpati, dan Manu.
        Prajāpati memperbanyak berbagai spesies.
Jiwa-jiwa yang telah ada sejak kekal memasuki tubuh-tubuh tersebut sesuai karma masing-masing.
Loka-loka pun menjadi penuh dengan dewa, manusia, hewan, naga, gandharva, asura, yakṣa, dan berbagai makhluk lainnya.

Dengan demikian, Brahmā berperan sebagai pengatur dan pencipta bentuk-bentuk kehidupan dalam alam semesta, sedangkan jiwa-jiwa yang menghidupi bentuk-bentuk tersebut berasal dari Tuhan dan bersifat kekal.Mohon maaf mungkin gambar ini tidak cukup mewakili ini hanya ilustrasi saja

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NAMA SUCI TUHAN DAPAT MENYEBRANGKAN DARI LAUTAN PENDERITAAN.

SRI NITYANANDA

SHRI RASIKANANDA