VRKASURA DENGAN BERKAT TANGAN MAUT.
VRKASURA DENGAN BERKAT TANGAN MAUT.
Kisah Vṛkāsura (Bhasmāsura) terdapat dalam Śrīmad Bhāgavatam 10.88 dan sering diceritakan sebagai contoh bagaimana seseorang yang dikuasai nafsu dan sifat tamas dapat menyalahgunakan anugerah para dewa.
Awal Kisah
Pada suatu hari, asura bernama Vṛkāsura, putra Śakuni, bertemu dengan Resi Nārada. Ia bertanya:
"Di antara Brahmā, Viṣṇu, dan Śiva, siapakah yang paling cepat memberikan berkah?"
Nārada menjawab bahwa Dewa Śiva terkenal sangat mudah merasa puas (Āśutoṣa). Dengan sedikit pelayanan beliau dapat memberikan berkah yang besar, tetapi kadang-kadang juga memberikan anugerah kepada orang yang tidak bijaksana.
Mendengar hal itu, Vṛkāsura pergi ke Kedarnath di Himalaya untuk memuja Dewa Śiva.
Pertapaan yang Mengerikan
Vṛkāsura melakukan tapa yang sangat keras. Ia menyalakan api suci dan setiap hari memotong sebagian daging tubuhnya sendiri lalu mempersembahkannya ke dalam api sebagai persembahan kepada Śiva.
Setelah enam hari, Śiva masih belum menampakkan diri. Pada hari ketujuh, Vṛkāsura memutuskan untuk mengorbankan kepalanya sendiri.
Saat ia hendak memenggal kepalanya, Dewa Śiva muncul dan menghentikannya.
Karena terharu oleh pertapaannya, Śiva berkata:
"Mintalah berkah apa pun yang engkau inginkan."
Berkat yang Berbahaya
Vṛkāsura lalu meminta:
"Semoga siapa pun yang kepalanya kusentuh dengan tanganku langsung hancur dan mati."
Śiva mengetahui bahwa permintaan itu sangat berbahaya. Namun karena telah berjanji memberikan anugerah kepada pemujanya, beliau akhirnya mengabulkannya.
Begitu memperoleh berkat itu, sifat jahat Vṛkāsura langsung muncul.
Vṛkāsura Mengejar Śiva
Asura itu berpikir:
"Mengapa tidak kucoba dulu pada Śiva sendiri?"
Dalam beberapa versi Purana disebutkan bahwa ia juga ingin merebut Dewi Pārvatī setelah membunuh Śiva.
Maka ia segera berusaha menyentuh kepala Śiva.
Melihat hal itu, Śiva terkejut dan melarikan diri. Beliau berlari melintasi bumi, surga, dan berbagai planet, sementara Vṛkāsura terus mengejarnya.
Kisah ini menunjukkan bahwa bahkan seorang dewa yang sangat welas asih dapat menghadapi kesulitan ketika anugerah diberikan kepada orang yang berniat jahat.
Viṣṇu Menyelamatkan Keadaan
Akhirnya Śiva memohon perlindungan kepada Bhagavān Viṣṇu.
Viṣṇu kemudian menjelma sebagai seorang brahmacari muda yang sangat tampan dan bercahaya.
Ketika Vṛkāsura yang kelelahan datang, brahmacari itu berkata:
"Mengapa engkau berlari begitu jauh?"
Vṛkāsura menjelaskan semuanya.
Brahmacari itu lalu berkata dengan cerdik:
"Bagaimana engkau bisa yakin bahwa berkat Śiva benar-benar bekerja? Bukankah Śiva bergaul dengan para bhūta dan piśāca? Mungkin beliau sedang mempermainkanmu. Sebelum mengejar beliau, sebaiknya engkau menguji berkat itu pada dirimu sendiri."
Karena kecerdasannya telah tertutup oleh sifat tamas dan pengaruh maya Viṣṇu, Vṛkāsura mempercayai kata-kata itu.
Kehancuran Vṛkāsura
Tanpa berpikir panjang, ia meletakkan tangannya sendiri di atas kepalanya.
Seketika itu juga kepalanya pecah dan tubuhnya hancur. Vṛkāsura mati oleh berkat yang ia minta sendiri.
Para dewa bersorak gembira dari langit, sementara Śiva terbebas dari bahaya.
Pelajaran Rohani
Kisah ini mengandung beberapa pelajaran penting:
Kekuatan tanpa kebijaksanaan membawa kehancuran. Vṛkāsura menginginkan kekuatan, bukan pemurnian hati.
Keinginan material yang jahat akhirnya menghancurkan pemiliknya sendiri. Berkat yang dimaksudkan untuk mencelakai orang lain justru memusnahkan dirinya.
Bhagavān Viṣṇu adalah pelindung semua makhluk, termasuk para dewa. Dalam Bhāgavatam, Viṣṇu menyelamatkan Śiva melalui kecerdasan dan tenaga maya-Nya
Dewa Śiva sangat mudah puas kepada para penyembahnya. Karena kasih sayangnya yang besar, beliau kadang memberikan anugerah bahkan kepada makhluk yang belum murni. Oleh sebab itu Śrīmad Bhāgavatam menjelaskan bahwa para penyembah hendaknya tidak meminta kekuatan material, melainkan bhakti dan kebijaksanaan.
Karena setelah menyentuh kepalanya sendiri ia menjadi abu, Vṛkāsura dalam banyak cerita rakyat lebih dikenal dengan nama Bhasmāsura ("asura yang menjadi abu").

Komentar
Posting Komentar