NAMA SUCI TUHAN DAPAT MENYEBRANGKAN DARI LAUTAN PENDERITAAN.


Pada zaman dahulu hiduplah seorang ibu dan putrinya di sebuah desa kecil dekat sungai. Mereka hidup sederhana. Sang putri masih muda, hatinya lembut, dan sangat suka mendengar ajaran rohani. Sedangkan ibunya sebenarnya baik, tetapi pikirannya lebih dipenuhi keraguan dan urusan dunia.

Di seberang sungai tinggal seorang sadhu suci yang setiap sore memberikan ceramah tentang kebesaran nama Tuhan. Banyak penduduk datang mendengarkan beliau.
Suatu hari ibu dan putrinya ikut datang.
Mereka duduk di bawah pohon besar bersama penduduk lain. Angin sore berhembus pelan sementara sang sadhu berbicara dengan suara tenang:
“Nama Tuhan tidak berbeda dengan Tuhan sendiri.”
“Jika seseorang mengucapkan nama suci dengan hati penuh keyakinan, maka nama itu mampu menyelamatkan manusia dari ketakutan terbesar.”
Beliau lalu berkata lagi:
“Lautan kesulitan dunia dapat diseberangi dengan perahu nama Tuhan.”
Sang putri mendengarkan dengan mata berbinar. Kata-kata itu masuk ke dalam hatinya.
Tetapi sang ibu berpikir dalam hati:
“Ah… itu hanya kata-kata penghibur para pertapa.”
Ceramah selesai menjelang malam.
Langit mulai gelap. Awan hitam berkumpul.
Ibu dan putrinya segera berjalan pulang menuju sungai.
Namun hujan besar turun sangat deras.
Air sungai yang tadinya tenang berubah menjadi arus banjir yang menakutkan. Jembatan bambu yang biasa dipakai menyeberang sudah hanyut terbawa air.
Orang-orang mulai panik.
“Bagaimana kita pulang?”
“Arusnya terlalu deras!”
Sang ibu gemetar ketakutan.
Tetapi putrinya teringat kata-kata sang sadhu.
Dengan polos dan penuh keyakinan ia berkata:
“Ibu… bukankah sadhu tadi berkata bahwa nama Tuhan dapat menyelamatkan kita dari segala kesulitan?”
Ibunya menjawab dengan cemas:
“Itu hanya ceramah! Ini banjir sungguhan!”
Namun sang putri benar-benar percaya.
Ia menangkupkan tangan, memejamkan mata, lalu mulai mengucapkan nama Tuhan dengan penuh ketulusan.
Dengan hati penuh iman ia melangkah ke air.
Ajaib…
Kakinya tidak tenggelam.
Walaupun arus sungai besar, ia dapat melangkah perlahan menyeberangi sungai sambil terus mengucapkan nama Tuhan.
Orang-orang di tepi sungai terkejut melihatnya.
Sang ibu tercengang.
Putrinya sampai di seberang dengan selamat lalu berteriak:
“Ibu! Jangan takut! Sebut nama Tuhan dan menyebranglah!”
Tetapi sang ibu masih dipenuhi keraguan.
Dalam hatinya ia berpikir:
“Mana mungkin nama Tuhan bisa menahan banjir?”
Karena takut, ia mencoba menyeberang tanpa keyakinan. Ia sibuk menjaga pakaiannya, panik melihat arus, dan pikirannya dipenuhi ketakutan.
Ia tidak sungguh-sungguh berserah kepada Tuhan.
Baru beberapa langkah…
Arus besar menyeret tubuhnya.
“Ibu…!!”
Sang putri menangis dari seberang sungai.
Orang-orang mencoba menolong, tetapi arus terlalu deras.
Sang ibu hanyut dibawa banjir malam itu.
Keesokan harinya sang putri kembali menemui sadhu itu sambil menangis.
Sadhu tersebut berkata dengan lembut:
“Anakku… Tuhan selalu melindungi mereka yang berserah penuh keyakinan.”
“Bukan sekadar bibir yang mengucapkan nama Tuhan, tetapi hati yang percaya.”
Beliau melanjutkan:
“Keraguan membuat manusia tenggelam dalam lautan ketakutan,
tetapi keyakinan kepada Tuhan menolong jiwa menyeberangi lautan penderitaan.”
Kisah ini sering diceritakan para guru rohani untuk mengajarkan bahwa:
Nama Tuhan memiliki kekuatan rohani.
Keyakinan tulus membuka jalan pertolongan Tuhan.
Keraguan dan ketakutan membuat manusia lemah.
Pengucapan nama suci bukan mantra biasa, tetapi hubungan hati dengan Tuhan.
Dalam bhakti diajarkan:
Nama Tuhan harus diucapkan dengankeyakinan kerendahan hati, dan ketulusan.
Saat hati benar-benar bersandar kepada-Nya, pertolongan Tuhan datang dengan cara yang tidak terduga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SRI NITYANANDA

SHRI RASIKANANDA