Kisah Savitri dan Satyavan


Kisah Savitri dan Satyavan diceritakan dalam Vana Parva,  Mahabharata oleh Resi Markandeya kepada Yudhisthira dan para Pandawa selama masa pengasingan mereka di hutan.

Mengapa Markandeya Menceritakan Kisah Itu?

Saat hidup di hutan, Yudhisthira sering merasa sedih melihat penderitaan yang menimpa Draupadi. Ia bertanya kepada Resi Markandeya:

"Apakah pernah ada wanita yang begitu saleh, setia, dan tabah seperti Draupadi yang harus mengalami penderitaan sebesar ini?"

Untuk menjawab pertanyaan itu, Markandeya menceritakan kisah Savitri, seorang wanita yang kesetiaan, kecerdasan, dan keteguhannya bahkan mampu memperoleh kembali nyawa suaminya dari Yamaraja.

Putri Savitri

Pada zaman dahulu hiduplah Raja Aswapati dari kerajaan Madra. Ia tidak mempunyai anak dan bertahun-tahun melakukan tapa serta pemujaan kepada Dewi Savitri.

Akhirnya lahirlah seorang putri yang sangat cantik dan bijaksana. Karena merupakan karunia Dewi Savitri, putri itu diberi nama Savitri.

Ketika dewasa, kecantikannya begitu luar biasa sehingga banyak pangeran merasa tidak layak melamarnya.

Karena itu ayahnya mempersilahkannya memilih sendiri calon suami.

Memilih Satyavan

Dalam perjalanannya, Savitri bertemu seorang pemuda bernama Satyavan.

Satyavan adalah putra Raja Dyumatsena, seorang raja yang kehilangan kerajaan dan penglihatannya. Mereka hidup sederhana di hutan.

Begitu melihat Satyavan, Savitri merasa bahwa dialah suaminya yang ditakdirkan.

Ketika kembali ke istana, kebetulan Resi Narada sedang berkunjung.

Narada berkata:

"Satyavan memiliki semua sifat mulia. Namun ada satu masalah. Tepat satu tahun dari hari ini, ia akan meninggal."

Raja Aswapati terkejut dan meminta putrinya memilih pria lain.

Namun Savitri menjawab:

"Seorang wanita memilih suami hanya satu kali. Aku tidak akan memilih yang lain."

Narada memuji keteguhan hatinya.

Kehidupan di Hutan

Setelah menikah, Savitri tinggal bersama suami dan mertuanya di hutan.

Ia melayani mereka dengan penuh kasih.

Namun ia tidak pernah melupakan ramalan Narada.

Ketika hari yang ditentukan semakin dekat, Savitri mulai berpuasa dan berdoa.

Hari Kematian Satyavan

Pada hari yang telah diramalkan, Satyavan pergi ke hutan untuk mengambil kayu bakar.

Savitri bersikeras ikut menemaninya.

Saat bekerja, Satyavan tiba-tiba merasa pusing dan meletakkan kepalanya di pangkuan istrinya.

Tak lama kemudian ia menghembuskan napas terakhir.

Kedatangan Yamaraja

Tiba-tiba muncul Yamaraja, penguasa kematian.

Beliau mengambil jiwa Satyavan dan berjalan menuju alam kematian.

Namun Savitri mengikuti beliau.

Yama berkata:

"Kembalilah. Tugas seorang istri telah selesai."

Tetapi Savitri terus berjalan sambil berbicara dengan penuh hormat dan kebijaksanaan mengenai dharma, kesetiaan, dan kebajikan.

Yama terkesan.

Anugerah-Anugerah dari Yama

Karena puas dengan kata-katanya, Yama memberikan sebuah anugerah, asalkan bukan nyawa Satyavan.

Anugerah Pertama

Savitri meminta agar mertuanya, Raja Dyumatsena, memperoleh kembali penglihatannya.

Yama mengabulkannya.

Anugerah Kedua

Ia meminta agar kerajaan Dyumatsena dipulihkan.

Yama mengabulkannya.

Anugerah Ketiga

Ia meminta agar ayahnya, Raja Aswapati, memperoleh banyak putra.

Yama mengabulkannya.

Anugerah Keempat

Kemudian Savitri meminta:

"Semoga aku memperoleh seratus putra dari Satyavan."

Yama, yang terkesan oleh kebijaksanaannya, mengabulkan permintaan itu.

Yama Menyadari Kekeliruannya

Setelah berjalan cukup jauh, Yama menyadari sesuatu.

Jika Savitri akan memiliki seratus putra dari Satyavan, maka Satyavan harus hidup kembali.

Yama tersenyum melihat kecerdikan dan kesucian Savitri.

Akhirnya beliau berkata:

"Kesetiaanmu tidak tertandingi. Aku mengembalikan kehidupan suamimu."

Yama pun melepaskan jiwa Satyavan.

Satyavan Hidup Kembali

Savitri kembali ke tempat tubuh suaminya berada.

Satyavan terbangun seolah baru saja tidur.

Mereka pulang ke pertapaan.

Di sana mereka mendapati bahwa:

Penglihatan Dyumatsena telah kembali.

Kerajaannya dipulihkan.

Semua anugerah Yama menjadi kenyataan.

Mengapa Kisah Ini Diceritakan kepada Pandawa?

Setelah selesai bercerita, Markandeya menjelaskan kepada Yudhisthira:

Seperti Savitri yang tetap teguh dalam penderitaan dan akhirnya memperoleh kemenangan, demikian pula Draupadi dan para Pandawa harus tetap berpegang pada dharma meskipun sedang mengalami masa sulit.

Karena itu kisah Savitri bukan hanya kisah cinta dan kesetiaan, tetapi juga kisah tentang:

Keteguhan menjalankan dharma.

Kesetiaan yang tak tergoyahkan.

Kecerdasan yang disertai kerendahan hati.

Kemenangan kebajikan atas kematian.

Di antara semua kisah dalam Vana Parva, kisah Savitri dan Satyavan dianggap sebagai salah satu yang paling mengharukan dan paling dihormati dalam seluruh sastra Hindu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NAMA SUCI TUHAN DAPAT MENYEBRANGKAN DARI LAUTAN PENDERITAAN.

SRI NITYANANDA

SHRI RASIKANANDA