Kisah Raja Nala dan Putri Damayanti


Kisah Raja Nala dan Putri Damayanti adalah salah satu kisah terindah dalam Mahabharata. Kisah ini diceritakan kepada Yudhisthira selama masa pengasingan di hutan untuk menghibur dan menguatkan hatinya.

Siapa yang menceritakan kisah Nala kepada Pandawa?
Ketika Yudhisthira sangat berduka karena kehilangan kerajaan, menderita di hutan, dan merasa bersalah atas permainan dadu yang menyebabkan penderitaan Draupadi serta saudara-saudaranya, datanglah Resi Brhadasva.
Yudhisthira bertanya:
"Adakah raja lain yang pernah mengalami penderitaan seperti aku?"
Resi Brhadasva menjawab bahwa ada seorang raja agung yang bahkan mengalami penderitaan yang sangat mirip, yaitu Raja Nala dari Nisadha.
Lalu beliau mulai menceritakan kisah Nala dan Damayanti.
Raja Nala Sang Raja Sempurna
Nala adalah raja kerajaan Nisadha.
Beliau terkenal karena:Tampan luar biasa. Ahli mengendarai kereta perang.Bijaksana.Jujur.Dermawan.
Penyayang rakyat.Menjalankan dharma dengan baik.
Karena sifat-sifat mulianya, banyak orang mencintainya.

Damayanti Mendengar Nama Nala
Di kerajaan Vidarbha hidup seorang putri bernama Damayanti.
Meskipun belum pernah bertemu, Nala dan Damayanti mendengar kemasyhuran satu sama lain.
Lambat laun mereka saling jatuh cinta hanya melalui cerita yang mereka dengar.
Angsa Utusan Cinta
Suatu hari Nala menangkap seekor angsa emas.
Angsa itu memohon dibebaskan dan berjanji membantu Nala.
Angsa tersebut kemudian terbang menemui Damayanti dan berkata:
"Tidak ada pria yang lebih mulia daripada Raja Nala."
Damayanti pun semakin mencintainya.
Angsa itu menjadi perantara cinta mereka.
Para Dewa Ikut Melamar Damayanti
Ketika tiba saat swayamvara (pemilihan suami), para dewa juga tertarik kepada Damayanti.
Di antaranya:Indra Agni Varuna Yama
Mereka bahkan meminta Nala menjadi utusan mereka.
Bayangkan betapa sulitnya keadaan Nala. Ia sendiri mencintai Damayanti, tetapi diminta menyampaikan lamaran para dewa.
Dengan jujur Nala melaksanakan tugas itu.
Namun Damayanti menjawab: "Aku tetap memilih Nala."

Damayanti Memilih Nala
Pada hari swayamvara para dewa menyamar menyerupai Nala.
Kini ada lima "Nala" berdiri di hadapannya.
Damayanti berdoa memohon petunjuk.
Ia lalu memperhatikan bahwa para dewa:Tidak berkedip.Tidak berkeringat.Tidak menyentuh tanah.
Karangan bunga mereka tidak layu.
Sedangkan Nala menunjukkan ciri manusia biasa.
Damayanti mengenali dan memilih Nala.
Para dewa menghormati kesetiaannya dan memberkati pasangan tersebut.

Kali Menaruh Dendam
Namun ada satu makhluk yang marah.
Ia adalah Kali (personifikasi pengaruh Kali-yuga, bukan Dewi Kali).
Kali juga ingin mendapatkan Damayanti.
Karena Damayanti memilih Nala, Kali bersumpah menghancurkan kehidupan mereka.
Ia menunggu bertahun-tahun sampai menemukan celah dalam kehidupan Nala.

Kekalahan dalam Permainan Dadu
Ketika kesempatan datang, Kali memasuki pikiran Nala.
Nala tertarik bermain dadu melawan saudaranya, Pushkara.
Sedikit demi sedikit: Hartanya habis.Kerajaannya hilang. Istananya lenyap.
Semua kekayaannya musnah.
Akhirnya Nala dan Damayanti harus meninggalkan kerajaan.
Di sinilah kisah Nala menjadi sangat mirip dengan kisah Yudhisthira.
Karena itu Resi Brhadasva menceritakan kisah ini kepada Pandawa.

Kehidupan di Hutan
Pasangan kerajaan itu kini hidup sebagai pengembara miskin.
Mereka kelaparan dan kelelahan.
Nala merasa sangat sedih melihat penderitaan istrinya.
Pikiran Nala menjadi kacau karena pengaruh Kali.
Nala Meninggalkan Damayanti
Suatu malam ketika Damayanti tertidur, Nala berpikir:
"Ia menderita karena bersamaku."
Dalam kebingungan dan keputusasaan, ia meninggalkan istrinya sendirian dalam ketika tidur di hutan.
Ketika bangun, Damayanti menangis dan mencari suaminya ke mana-mana.
Ini adalah bagian paling menyedihkan dari kisah tersebut.Damayanti ingat Nala pernah menunjukkan ini adalah jalan menuju kota Vidharba,dg keputusasaan akhirnya dia mengikuti jalan itu singkat cerita dia bisa sampai kekerakaan orang tuanya(vidharba) dg menumpang pada rombongan pedagang

Pertemuan dengan Raja Ular Karkotaka
Nala kemudian menyelamatkan seekor ular naga bernama Karkotaka yang terjebak dalam api.
Sebagai balasan, Karkotaka menggigit Nala.
Anehnya gigitan itu bukan kutukan.
Tubuh Nala berubah menjadi pendek dan tidak menarik.tubuhnya keriput.
Karkotaka menjelaskan:
"Aku melakukan ini demi kebaikanmu. Dengan wujud baru ini musuh tidak akan mengenalimu."
Selain itu, racun Karkotaka menyiksa Kali yang bersembunyi dalam tubuh Nala.

Menjadi Bahuka
Nala lalu menggunakan nama Bahuka.
Ia bekerja sebagai kusir bagi Raja Rituparna dari Ayodhya.
Meskipun menyamar, kemampuannya mengendalikan kereta tetap luar biasa.
Tak seorang pun tahu bahwa Bahuka sebenarnya adalah Raja Nala.
Damayanti Mencari Nala
Sementara itu Damayanti tidak pernah melupakan suaminya.
Ia terus mencari kabar tentang Nala.
Akhirnya ia mendengar desas-desus mengenai seorang kusir aneh yang sangat ahli mengendarai kereta.
Ia mulai curiga bahwa orang itu adalah Nala.

Pertemuan Kembali
Damayanti menggunakan cara cerdas.
Ia mengumumkan seolah-olah akan mengadakan swayamvara kedua.
Kabar itu sampai kepada Raja Rituparna.
Raja ingin segera hadir sehingga Bahuka harus mengemudikan kereta dengan kecepatan luar biasa.Ditengah perjalanan mereka melihat sebatang pohon dg daun dan buah yg lebat,raja Ratu Parna menapsir jumlah daun dan buah pohon tersebut,Nala tidak percaya kemudian mereka sepakat menebang pohon tersebut dan menghitung daun dan buah pohon itu ternyata memang tepat,Rtuparna mempunyai keahlian menghitung dan berjudi akhirnya mereka sepakat menukar keahliannya yaitu keahlian Nala mengendalikan kereta dan keahlian Rtuparna bermain judi.
Perjalanan yang biasanya berhari-hari ditempuh dalam waktu sangat singkat.
Saat melihat keahlian Bahuka, keyakinan Damayanti semakin kuat.
Setelah berbagai ujian dan percakapan, identitas Nala akhirnya terungkap.
Pasangan itu bertemu kembali setelah lama berpisah.

Kerajaan Direbut Kembali
Kali akhirnya keluar dari tubuh Nala.
Nala memperoleh kembali wujud aslinya.
Ia lalu menantang Pushkara bermain dadu sekali lagi.
Kali ini Nala menang.
Kerajaannya kembali.
Namun ia tidak membalas dendam.
Ia memaafkan Pushkara dan mengampuninya.
Mengapa Kisah Ini Penting bagi Pandawa?
Resi Brhadasva ingin menunjukkan kepada Yudhisthira:
Bahkan raja yang saleh bisa mengalami kemalangan.
Kekalahan dalam permainan dadu bukan akhir segalanya.
Kesabaran dan keteguhan akan membawa pemulihan.
Orang yang tetap memegang dharma akhirnya akan ditolong Tuhan.
Penderitaan dapat menjadi sarana penyucian dan pembelajaran.
Karena itu setelah mendengar kisah Nala, hati Yudhisthira menjadi lebih tenang. Ia menyadari bahwa dirinya bukan satu-satunya raja yang pernah kehilangan kerajaan akibat dadu, dan bahwa dengan kesabaran serta dharma, keadaan dapat dipulihkan pada waktunya.
Dalam tradisi Hindu, kisah Nala dan Damayanti sering dianggap sebagai salah satu contoh paling indah tentang kesetiaan suami-istri, ketabahan dalam penderitaan, dan kemenangan dharma atas nasib buruk.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NAMA SUCI TUHAN DAPAT MENYEBRANGKAN DARI LAUTAN PENDERITAAN.

SRI NITYANANDA

SHRI RASIKANANDA