Maha Siva Ratri


Kutipan-Kutipan Sastra terkait Shiva Ratri:
(1)
Siva Ratri Vrtam Krsna Catur-Dasyantu Phalgune
Api Vaisnaver Tat Karyam Sri Krsna Pritaye Sada
(Hari Bhakti Vilasa 14/187 Dari Gautamiya Tantra)
Pada hari keempat belas dari dua minggu menuju bulan gelap (tilem) di bulan Phalguna (Februari-Maret), demi kepuasan Tuhan Shri Krishna, seorang Vaisnava harus selalu bersumpah untuk berpuasa. (Ini disebut Siwa Ratri, atau malam Dewa Siwa.)

(2)
sri krsne vaisnavanantu prema bhakti vivardhate
krsna bhakti rasa sara varsi rudra anukampaya
(hari bhakti vilasa 14/221 dari skanda purana)
Menjadi seorang Vaisnava, jika seseorang berpuasa di malam Dewa Siva (hari Shiva Ratri), atas karunia Beliau (Dewa Siva), yang telah menyelam di dalam lautan rasa pengabdian suci kepada Tuhan Sri Krishna, maka pengabdian orang tersebut kepada Tuhan Sri Krishna akan meningkat dengan sangat cepat.

(3)
parat parataram yanti narayana parayanah
nate tatra gamisyanti ye dvisanti mahesvaram
(hari bhakti vilasa 14/189 dari kurma purana, tuhan yang maha esa berbicara kepada bhrgu muni)
(Seseorang yang menghindari puasa pada hari Siwa Ratri atau "malam Dewa Siwa", ia akan menjadi orang yang sangat ofensif. Pelanggaran apa pun yang telah dikumpulkan seseorang dengan tidak berpuasa pada hari Siwa Ratri dijelaskan di sini.) Tujuan yang paling utama adalah mencapai pada Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan Narayana, yang berada di dunia spiritual. Tetapi jika seseorang iri kepada Dewa Siva, maka ia tidak akan bisa mencapai dunia spiritual.

PENJELASAN 
YANG MAHA BERKARUNIA A.C BHAKTIVEDANTA SWAMI PRABHUPADA
Shrila Prabhupada berkomentar tentang Siwa Ratri dan ketaatannya:
diambil dari Buku Krishna bagian Raksasa Sankhacuda Dibunuh.
Pada suatu waktu, para gembala sapi di Vrindavana, yang dipimpin oleh Nanda Maharaja, ingin pergi ke Ambikavana untuk merayakan festival Siwa-ratri. Rasa-lila dilakukan selama musim gugur, dan setelah itu perayaan besar berikutnya adalah Holi, atau perayaan Dolayatra. Diantara perayaan Dolayatra dan perayaan rasa-lila ada satu perayaan penting yang disebut Siva-ratri, yang secara khusus dirayakan oleh para Saivites, atau penyembah Dewa Siva. Terkadang para Vaishnava juga merayakan upacara ini karena para penyembah menerima Dewa Siwa sebagai Vaishnava yang terkemuka. Tetapi fungsi Siva-ratri tidak dirayakan secara teratur oleh para bhakta, atau penyembah Krishna. Dalam keadaan demikian, dalam Shrimad-Bhagavatam dinyatakan bahwa Nanda Maharaja dan para gembala sapi lainnya “pada suatu waktu yang diinginkan.” Ini berarti bahwa mereka tidak secara teratur merayakan festival Siva-ratri tetapi bahwa pada suatu waktu mereka ingin pergi ke Ambikavana karena rasa penasaran. Ambikavana berada di suatu tempat di provinsi Gujarat, dan konon terletak di sungai Sarasvati. Namun kami tidak menemukan Sungai Sarasvati di provinsi Gujarat, meskipun ada sebuah sungai yang bernama Savarmati. Di India, semua tempat suci yang besar terletak di sungai yang indah seperti Sungai Gangga, Yamuna, Sarasvati, Narmada, Godavari, dan Kaveri. Ambikavana dijelaskan terletak di tepi sungai Sarasvati, Nanda Maharaja dan semua orang penggembala sapi lainnya pergi ke sana. Mereka dengan penuh pengabdian mulai memuja Dewa Siva dan Ambika. Ini adalah hal yang umum bahwa di mana pun ada kuil Dewa Siwa, pasti ada kuil yang lain, yaitu kuil Ambika (atau Durga), karena Ambika adalah istri Dewa Siwa dan merupakan wanita suci yang paling agung. Dia tidak tinggal di luar pergaulan suaminya. Setelah mencapai Ambikavana, para penggembala sapi Vrindavana pertama-tama mandi di sungai Sarasvati. Jika seseorang pergi ke suatu tempat ziarah, kewajiban pertama yang mereka lakukan adalah mandi dan terkadang mencukur rambutnya. Itu adalah urusan pertama. Setelah mandi, mereka memuja dewa dan kemudian membagikan sumbangan/sedekah ke tempat-tempat suci.
(SP - Buku Krishna. Ch 34.)


Shrila Prabhupada:… Nanda Maharaja dan semua orang penggembala sapi merayakan festival Siva-ratri, mereka semakin meningkatkan keterikatan mereka pada Krishna. Hal itu yang mereka inginkan.
(A.C.Bhaktivedanta Swami Prabhupada. 1 Mei 1974, kutipan Morning Walk, Bombay, India.)

“Dalam ayat ini Dewa Siva digambarkan sebagai midhushtama, yang terbaik dari orang-orang yang terberkati. Dia juga dikenal sebagai Asutosha, yang menunjukkan bahwa Beliau sangat cepat puas dan sangat cepat marah. Dikatakan dalam Bhagavad-gita bahwa orang-orang yang kurang cerdas pergi ke para dewa untuk mengajukan doa-doa yang bersifat material. Dalam hubungan ini, orang-orang pada umumnya akan pergi memuja Dewa Siva, dan karena Beliau selalu cepat puas dan memberikan karunia kepada para pengikutnya tanpa ada pertimbangan, ia disebut midhushtama, atau yang terbaik dari para orang-orang yang terberkati. Orang materialistis selalu ingin mendapatkan keuntungan material, tetapi mereka tidak pernah serius dengan keuntungan spiritual.
Terkadang, tentu saja, hal yang nyata bahwa Dewa Siva menjadi kepribadian yang memberikan karunia terbaik dalam kehidupan spiritual. Dikatakan bahwa suatu kali seorang brahmana miskin melakukan pemujaan kehadapan Dewa Siwa untuk sebuah permintaan, dan Dewa Siwa menyarankan para penyembah untuk pergi menemui Sanatana Gosvami. Penyembah itu pun pergi ke Sanatana Gosvami dan memberikan informasi kepada Sanatana Goswami bahwa Dewa Siva telah menasehatinya untuk mencari karunia yang terbaik darinya (Sanatana). Sanatana memiliki sebuah batu ajaib yang berharga, yang disimpannya ditempat sampah. Atas permintaan brahmana yang malang, Sanatana Gosvami memberikan batu ajaib yang berharga itu, dan brahmana merasa sangat senang memilikinya. Dia sekarang bisa mendapatkan emas sebanyak yang dia inginkan hanya dengan menyentuhkan batu ajaib itu pada sebatang besi. Tetapi setelah dia meninggalkan Sanatana, dia pun berpikir, “Jika batu ajaib yang berharga ini adalah karunia yang terbaik, mengapa Sanatana Gosvami menyimpannya di tempat sampah?” Karena itu ia segera kembali dan bertanya kepada Sanatana Gosvami, "Tuan, jika ini adalah karunia yang terbaik, mengapa Anda menyimpannya ditempat sampah?" Sanatana Gosvami kemudian memberitahunya, “Sebenarnya, ini bukanlah berkat yang terbaik. Tetapi apakah Anda benar-benar siap untuk mengambil berkat terbaik dari saya? " Brahmana itu berkata, “Ya, tuan saya sudah siap. Karena Dewa Siva telah mengirim saya kepada Anda untuk mendapatkan karunia yang terbaik. " Kemudian Sanatana Gosvami memintanya untuk melemparkan batu ajaib yang berharga tersebut ke dalam air di dekatnya dan kemudian kembali. Brahmana yang malang itupun melakukannya, dan ketika dia kembali, Sanatana Gosvami mendiksa brahmana tersebut dengan mantra Hare Krishna. Demikianlah atas karunia dari Dewa Siva, brahmana tersebut akhirnya mendapatkan pergaulan dari penyembah terbaik dari Tuhan Sri Krishna dan dengan demikian brahmana tersebut telah diinisiasi dengan maha-mantra, Hare Krishna, Hare Krishna, Krishna Krishna, Hare Hare / Hare Rama, Hare Rama, Rama Rama, Hare Hare.
(Srila A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada. Shrimad Bhagavatam 4: 7: 7. Tujuan.)

Vaishnavanams yatha Shambu 
Dewa Siwa adalah penyembah teragung dari Tuhan Sri Wisnu.
Tuhan Sri Krishna (Wisnu) dalam analogi ini dianggap dipersamakan dengan Susu. Susu adalah asal dari begitu banyak olahan-olahan susu lainnya - Krishna tu bhagavan swayam, dan Krishna atau Wisnu adalah asal dari segala-galanya. Ketika Tuhan Sri Krishna menginginkan aktivitas yang diawasi oleh Tamo guna, Beliau mengembangkan diri-Nya dan mentransformasikan kekuatan-Nya yang tertinggi untuk bertindak dengan cara itu, sebagaimana yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain, dan dalam keadaan seperti itu Beliau dikenal sebagai Shambu - Shiva. Jadi dapat dimengerti bahwa hal tersebut layaknya seperti susu yang telah diubah menjadi yogurt, tetapi yoghurt tersebut tidak akan pernah kembali lagi menjadi susu, hal ini diuraikan dalam Brahma samhita 5:45.
Brahma Samhita bab 5 TEXT 45
ksiram yatha dadhi vikara-visesa-yogat
sanjayate na hi tatah prthag asti hetoh
yah sambhutam api tatha samupaiti karyad
govindam adi-purusam tam aham bhajami
ksiram – susu; yatha – sebagai; dadhi – yogurt; vikara-visesa – transformasi khusus; yogat – oleh cara; sanjayate – ditransformasikan menjadi; na – bukan; hai – memang; tatah – dari susu; prthak – dipisahkan; asti – adalah; hetoh – yang merupakan penyebabnya; yah – siapa; sambhutam – sifat dari Dewa Siwa; api – juga; tatha — dengan demikian; samupaiti – menerima; karyat — untuk urusan tertentu; govindam – Govinda; adi-purusam – orang asli; tam – Dia; aham – hamba; bhajami – pemujaan.
TERJEMAHAN
Sama halnya seperti susu yang telah diubah menjadi yogurt oleh aksi zat asam, tetapi efek dari yogurt tersebut tidak akan pernah sama dengan, atau akan berbeda dari, penyebabnya, yaitu susu, jadi hamba memuja Tuhan Sri Govinda dalam wujud Sambhu, dimana Beliau adalah transformasi dari Tuhan untuk melaksanakan kewajiban peleburan alam semesta.

Cerita-cerita terkait Malam Shiva Ratri...
Kisah Raja Chitrabhanu
Dalam Kitab Mahabharata bagian Shanti Parva, Bisma, ketika sedang beristirahat di tempat tidurnya yang terbuat dari anak panah sedang berbicara tentang Dharma, merujuk pada pemujaan yang dilakukan oleh Raja Chitrabhanu pada malam Maha Shivaratri. Ceritanya sebagai berikut.
Suatu hari ketika Raja Chitrabhanu sedang menjalankan ritual puasa bersama istrinya, dimana pada hari itu adalah hari Maha Shivaratri, Seorang Rsi yang bernama Ashtavakra datang berkunjung ke istana Raja Chitrabanu. Rsi itu bertanya, “Wahai raja, mengapa Anda menjalankan ritual puasa hari ini?” Raja Chitrabhanu pun menjelaskan latar belakangnya, karena Beliau memiliki karunia untuk mampu mengingat apa yang terjadi pada kelahiran sebelumnya. Raja berkata kepada Rsi tersebut, “dalam kelahiran ku dimasa lalu, aku adalah seorang pemburu di Varanasi (Kashi). Nama saya adalah Suswara. Mata pencaharian saya adalah membunuh dan menjual burung-burung dan binatang-binatang lainnya. Suatu hari, ditengah hutan tersebut saya dikalahkan oleh kegelapan malam. Sehingga saya tidak dapat segera kembali ke rumah saya, selanjutnya saya memanjat pohon untuk mencari tempat berlindung, dan kebetulan sekali pohon itu adalah pohon bilwa/maja. Hari itu saya telah menembak seekor rusa, tetapi saya tidak ada waktu untuk membawanya pulang. Saya mengikat rusa itu pada cabang pohon bilwa. Ketika saya disiksa oleh rasa lapar dan kehausan, saya terus terjaga sepanjang malam itu. Saya menangis tersedu-sedu ketika memikirkan nasib istri dan anak-anakku yang miskin dan kelaparan, mereka menunggu kepulanganku dengan penuh rasa cemas. Untuk melewati malam itu aku menyibukkan diri dengan terus memetik daun bilwa dan menjatuhkannya ke tanah. “keesokan harinya saya kembali ke rumah dan menjual rusa itu. Saya membeli makanan untuk saya dan keluarga saya. Aku akan berbuka puasa ketika ada orang lain yang datang kepadaku untuk meminta sedekah makanan. Saya akan melayani orang tersebut terlebih dahulu dan kemudian baru mengambil makanan saya. "
“Pada saat kematian saya, saya melihat dua orang utusan dari Dewa Siwa, mereka dikirim untuk membawa saya ke kediaman Dewa Siwa. Saya kemudian mendapatkan pengetahuan untuk pertama kalinya mengenai karunia yang begitu besar yang saya peroleh karena pemujaan kepada Dewa Siwa yang telah saya lakukan, dimana pemujaan tersebut tanpa saya sadari telah saya lakukan selama malam Shivaratri. Mereka mengatakan kepada saya bahwa ada sebuah lingam di bawah pohon bilwa itu dan bahwa saya telah menjatuhkan daun pohon bilwa tersebut tepat pada Lingam itu. Air mata saya, yang telah saya keluarkan dari rasa kesedihan yang begitu murni untuk keluarga saya, jatuh ke Lingam tersebut dan tak sengaja telah mencuci lingam tersebut. Dan saya telah berpuasa sepanjang hari dan sepanjang malam. Karena itu, tanpa sadar saya telah melakukan pemujaan kepada Dewa Siwa tepat di hari yang paling menguntungkan itu. ” “Saya tinggal di tempat tinggal Tuhan dan menikmati kebahagiaan spiritual sejak lama. Dan sekarang aku dilahirkan kembali sebagai Chitrabhanu. ”

Jaminan Dewa Siwa
Ketika proses penciptaan telah selesai, Dewa Siwa dan Ibu Parvati pergi untuk tinggal di puncak Gunung Kailash. Parvati bertanya, "Wahai tuanku yang manis, dari begitu banyak ritual yang dilakukan untuk memuja kehormatan Anda, ritual manakah yang paling memuaskan Anda." Dewa Siwa menjawab, “malam keempat belas bulan baru dalam dua minggu yang gelap selama bulan Phalguna, adalah hari favorit saya. Hari itu disebut Maha Shivaratri. Para bhakta saya telah memberi saya kepuasan dan kebahagiaan yang luar biasa dengan cara berpuasa, hal ini lebih penting dibandingkan dengan upacara mandi di sungai dan mempersembahkan bunga, manisan, dan dupa. ”
“Penyembah itu menjalankan disiplin spiritual yang ketat pada siang hari dan memuja saya dalam empat bentuk berbeda selama masing-masing dari empat periode tiga jam berturut-turut dimalam itu. Persembahan berupa daun bilwa lebih berharga bagiku daripada perhiasan yang mahal dan bunga yang sangat mewah. Pemuja saya harus memandikan saya dengan susu pada periode pertama, dengan yogurt pada periode kedua, dengan ghee pada periode ketiga, dan dengan madu pada periode terakhir atau keempat. Di pagi hari ia harus memberi makan para Brahmana (jika itu memungkinkan), dan setelah melakukan itu ia berbuka puasa. Tidak ada ritual yang dapat dibandingkan dengan rutinitas sederhana ini dalam kesucian. "
Parvati sangat terkesan dengan kata-kata suaminya. Dia mengulangi pernyataan ini kepada teman-temannya, yang mana merekalah yang menyebarkannya kepada semua orang. Demikianlah akhirnya kesucian hari Maha Shivaratri disebarkan ke seluruh dunia. Puasa Shivaratri ditujukan untuk mengendalikan seseorang dari dua sifat buruk (rajas - kualitas aktivitas yang penuh gairah) dan (tamas – kualitas sifat aktivitas yang penuh dengan kemalasan).

Di banyak ashram di seluruh dunia, Shivaratri dirayakan dengan cara berikut :
Para bhakta berpuasa sepanjang hari, banyak dari mereka tanpa meminum satu tetes air pun. Beberapa ashram melakukan agnihotra yang berskala besar (api yajna) kepada Dewa Siwa untuk perdamaian dan kesejahteraan semua orang. Seluruh hari dihabiskan untuk melantunkan mantra "Om namah Shivaya" dan dalam meditasi kepada Tuhan. Pada malam harinya semua berkumpul di kuil dan mengucapkan mantra ini dan selama empat bagian dari malam tersebut Siwa lingam dipuja dengan pengabdian yang penuh semangat.

har har Mahadev....
Happy Shiva Ratri semetons....


Komentar

Postingan populer dari blog ini

NAMA SUCI TUHAN DAPAT MENYEBRANGKAN DARI LAUTAN PENDERITAAN.

SRI NITYANANDA

SHRI RASIKANANDA