Chaitanya Mahaprabhu muncul secara rohani di Mayapur di kota Nadia tepat pada Bulan Purnama setelah matahari terbenam pada malam Phalguna ke-23 (1407 Sakadba), diperkirakan pada tanggal 18 Februari 1486. Pada saat kemunculan Beliau, kilauan cahaya yang keluar dari badan rohani Beliau dikatakan mengalahkan Sinar bulan purnama pada saat itu, dan orang-orang di Nadia kemudian disibukkan dalam pelayanan bhakti, seperti yang biasa terjadi pada saat-saat seperti itu, mereka yang sedang mandi di Sungai Bhagirathi bersorak-sorak “Haribolo” dengan sangat kerasnya. Ayah Beliau, Jagannatha Misra, ‘brahmana’ yang kurang mampu, dan Ibunda Beliau, Saci-devi, seorang wanita teladan yang baik, keduanya merupakan keturunan ‘brahmana’ yang awalnya tinggal di Sylhet. Mahaprabhu adalah seorang anak yang sangat menawan, dan para wanita yang berasal dari kota pun datang menemui-Nya dengan membawa berbagai macam hadiah. Kakek Beliau dari pihak Ibu (ayah dari Ibu Saci), Pandita Nilambara Cakravarti, seorang peramal yang terkenal, Beliau memberikan ramalan bahwa anak itu akan menjadi tokoh yang besar dan sangat berpengaruh; oleh karena itu, Pandita Nilambara Cakrawati memberinya nama Visvambhara. Para wanita di lingkungan itu memberikan nama Gaurahari karena warna kulit Beliau yang berwarna keemasan, dan ibunda-Nya memanggilNya Nimai karena ada pohon 'nimba' di dekat tempat kelahiran Beliau. Beliau begitu menawan, setiap hari semua orang senang melihat-Nya dan berkunjung ke rumah Jaganatha Misra. Beliau pun tumbuh menjadi anak laki-laki yang memiliki sifat selalu riang dan senang bersenda gurau .
Dikatakan bahwa ketika Beliau masih batita, masih dalam gendongan ibu-Nya, Beliau menangis terus-menerus, dan ketika mataji-mataji yang merupakan tetangga Ibu Saci berteriak 'Haribol' tangis Beliau seketika terhenti. Dengan kejadian tersebutteriakan 'Haribol' selalu bergema di rumah Beliau. Diceritakan pula bahwa ketika ibu Saci memberi Beliau makanan manis, Beliau malah makan tanah liat dan bukan makanan yang dipersembahkan Ibu Saci. Ibu Saci akhirnya bertanya alasan kenapa Nimai memakan tanah liat, Nimai hanya mengatakan bahwa karena setiap manisan tersebut tidak lain adalah tanah liat yang telah berubah, Beliau pun jadi terbiasa makan tanah liat. Ibu Saci, yang juga merupakan pendamping seorang 'pandita', menjelaskan bahwa setiap benda dalam keadaan tertentu disesuaikan dengan penggunaan tertentu pula. Contohnya seperti sebuah pot dari tanah liat, dapat digunakan sebagai pot air, tetapi apabila tanah liat itu dibentuk menjadi batu bata, maka batu bata itu tidak dapat digunakan sebagai wadah air, oleh karena itu tanah liat dalam bentuk manisan dapat digunakan sebagai makanan, tetapi tanah liat di negara bagian lain tidak. Dengan cara itulah Ibu Saci meyakinkan putranya untuk tidak lagi memakan tanah liat dan akhirnya Nimai pun menyadari kesalahanNya dan setuju untuk tidak mengulanginya dimasa depan. Tindakan menakjubkan lainnya yaitu diceritakan bahwa seorang brahmana yang sedang melakukan perjalanan sucinya menjadi tamu di rumah Beliau, Sang Brahmana memasak makanan dan membaca doa pujian dengan memusatkan meditasinya pada Tuhan Krishna. Tiba-tiba saja Nimai datang dan memakan nasi yang sudah dipersembahkan tersebut. 'Brahmana' tersebut tercengang melihat tindakan anak itu, kemudian dia memasak lagi atas permintaan Jagannatha Misra. Nimai kecil kembali memakan nasi yang dipersembahkanoleh 'brahmana' tersebut. 'Brahmana' itupun kembali dibujuk untuk memasak yang ketiga kalinya. Kali ini semua orang yang ada di rumah tersebut tertidur pulas, dan Nimai menunjukkan diri-Nya sebagai Krishna kepada para brahmana tersebut dan memberkatinya. 'Brahmana' tersebut kemudian merasakan kebahagian yang sangat luar biasa ketika melihat kemunculan wujud rohani objek yang Beliau puja selama ini.Diceritakan pula bahwa ketika ada dua orang pencuri yang inginmenculik Nimai dan mencuri perhiasan-perhiasan Jaganath Misra, dan disepanjang perjalanan pulangnya pencuri tersebut memberikan sejumlah manisan kepada Nimai. Selanjutnya Nimai menggunakan energi ilusinya dan menipu para pencuri tersebut, dimana seolah-olah pencuri tersebut tidak pergi kemanapun dan hanya kembali ke rumah Beliau sendiri. Setelah menyadari kejadian tersebut dan karena takut dipergoki niat jahatnya, akhirnya para pencuri itupun melarikan diri. Tindakan menakjubkan lainnya yang telah dijelaskan yaituNimai menuntut dan ingin mendapatkan semua persembahan yang telah dipersembahkan kepada Tuhan Sri Krishna dihari Ekadasi oleh Hiranya dan Jagadisa. Ketika baru berusia empat tahun, Nimai duduk di atas panci masak yang dianggap tidak suci oleh ibu-Nya. Nimai menjelaskan kepada ibu-Nya bahwa tidak perlu lagi ada pernyataan tentang kesucian dan ketidaksucian sehubungan dengan pot tanah yang dibuang setelah selesai memasak, semuanya sama. Cerita-cerita lucu ini berlangsung sampai usia Beliau lima tahun.
Pada usia 8 tahun, Beliau di sekolahkan didalam tola Gangadasa Pandita di Ganganagara dekat desa Mayapur. Dalam dua tahun Beliau bisa membaca dengan baik dalam tata bahasa dan ahli dalam berbicara Sanskerta. Beliau belajar sendiri secara alami di rumah-Nya sendiri, di mana Beliau telah menemukan semua buku-buku yang sangat penting milik ayah-Nya, yang merupakan seorang 'pandita'. Beliau juga membaca 'smrti'dan 'nyaya' dalam ruang belajarnya sendiri, dalam persaingan dengan teman-teman-Nya, yang kemudian belajar di bawah 'pandita' Raghunatha Siromani yang terkenal.
Sekarang, setelah usia 10 tahun, Chaitanya menjadi sarjana tata bahasa, ahli berbicara sanskerta dan membaca smrti ’dan‘ nyaya ’. Setelah itu, kakak laki-laki Beliau Visvarupa meninggalkan rumahnya untuk mejalani pelepasan ikatan dan menjadi seorang Sanyasi. Chaitanya, meskipun masih sangat muda, berusaha menghibur orang tua-Nya, dengan mengatakan bahwa Beliau akan melayani mereka seperti melayani Tuhan. Beberapa saat setelah itu, Jaganath Misraberpulang. Ibunya sangat berduka dan bersedih, dan Mahaprabhu, dengan penampilan Beliau yang tampak selalu berbahagia berusaha untuk menghibur ibu-Nya.
Pada usia 14 atau 15 tahun Mahaprabhu menikah dengan Laksmidevi, putri Vallabhacharya, yang juga berasal dari Nadia. Pada Usia ini Beliau dianggap sebagai salah satu cendekiawan yang terbaik di Nadia dan Beliau menjadi ketua filsafat ‘nyaya’terkenal dan pembelajaran bahasa Sanskerta. Semua pandita-pandita ahli filsafat ‘nyaya’ takut berhadapan dengan Beliau dalam diskusi sastra. Menjadi seorang Grhasta, Beliau pergi ke Benggala Timur di tepi Padma untuk mendapatkan kemakmuran yang diperlukan dalam kehidupan berumah tangga. Di sana Beliau menunjukkan ajaran-ajaran-Nya dan memperoleh sejumlah uang. Pada saat itulah Ia memberitakan filsafat Vaishnava secara berkala. Setelah mengajarkan tentang prinsip-prinsip Vaishnava, Beliau memberikan perintah kepada Tapanamisra untuk pergi dan tinggal di Benares. Sementara itu kediaman-Nya di Benggala Timur, istri Beliau, Laksmidevi harus berpulang karena terkena gigitan ular yang beracun. Saat Beliau kembali ke rumah, Beliau mendapati ibu-Nya dalam keadaan berkabung. Beliau menghiburnya dengan ulasan tentang ketidakpastian umur manusia. Selanjutnya, atas permintaan ibu-Nya Beliau menikahi Visnupriya, putri Raja Pandita Sanatana Misra. Teman-teman Beliau bergabung kembali dengan-Nya sekembalinya mereka dari pravasa atau Sojourn. Beliau kini menjadi sangat terkenal sehingga Beliau dianggap sebagai pandita terbaik di Nadia. Kesava Misra dari Kashmir, yang menyebut dirinya Digvijayi Hebat, datang ke Nadia dengan maksud untuk berdiskusi dengan para pandita yang ada dikawasan Nadia. Mendengar kedatangan Kesava Misra dan karena takut berdiskusi dengan Kesava Misra, para ahli pandita tola Nadia pun pergi meninggalkan kota mereka dengan alasan ada undangan di tempat lain. Akhirnya Kesava Misra bertemu Mahaprabhu di Barokona-ghata di Mayapur, dan setelah diskusi yang sangat singkat dengan Kesava Misra, Kesava Misra pun dikalahkan oleh ‘Anak kecil’ itu, dan Kesava Misra pun mejadi sangat malu dan harus pergi meninggalkan Nadia secara diam-diam. Nimai Pandita pun sekarang menjadi 'pandita' yang paling Agung dan termashyur di zaman-Nya.
Pada usia 16 atau 17 tahun Beliau melakukan perjalanan suci-Nya ke Gaya dengan sejumlah siswa-siswa Beliau dan di tempat inilah Beliau mengambil inisiasi spiritual-Nya kepada Shri Ishvara Puri, seorang Vaisnava ‘sannyasi’ dan seorang murid kesayangan dari Shri Madhavendra Puri yang sangat termahsyur. Sekembalinya ke Nadia, Nimai Pandita menjadi Pengajar Spiritual, dan sifat religius-Nya menjadi sangat kuat sehingga Advaita Prabhu, Srivasa, dan lainnya yang lebih senior dari Beliau yang telah menerima keyakinan Vaisnava tercengang dengan perubahan pemuda itu. Dia kemudian tidak lagi menjadi 'naiyayika' yang bersaing, 'smarta' yang bertengkar, dan seorang ahli diskusi yang suka mengkritik. Beliautidak sadarkan diri karena mendengar nama suci Tuhan Sri Krishna dan Beliau berperilaku seperti orang yang sangat berpengaruh dalam kerohanian. Murari Gupta, yang merupakan salah satu dari saksi mata saat lila Lord Caitanya, menjelaskan bahwa Beliau menunjukkan kuasa rohani-Nya di rumah Srivasa Pandita di hadapan ratusan pengikut-Nya, yang kebanyakan adalah para sarjana terpelajar. Pada saat itulah Beliau membuka sekolah 'kirtana' di kompleks Srivasa Pandita dengan pengikut-pengikut-Nya yang tulus. Di sana Beliau memberikan pengajaran, bernyanyi, menari, dan di sanalah Beliau mengekspresikan segala macam perasaan rohani Beliau. Nityananda Prabhu, yang saat itu adalah seorang pengajar spiritual Vaishnava dan yang kemudian menyelesaikan perjalanan suci-Nya ke seluruh India, saat itu ikut bergabung dengan Caitanya Mahaprabhu. Bahkan, banyak pengajar-pengajar rohani 'pandita' Vaisnavisme yang berasal dari berbagai daerah dikawasan bengal, yang semuanya memiliki sifat tulus hati, datang dan bergabung dengan Lord Caitanya Mahaprabhu. Nadia sekarang menjadi lokasi reguler dari sejumlah Vaisnava ‘acharyas’ yang misinya adalah untuk meningkatkan kualitas spiritual umat manusia dengan pengaruh tertinggi dari ajaran Vaishnava.
Mandat pertama yang Beliau berikan untuk NityanandaPrabhu dan Haridasa adalah sebagai berikut: 'Pergilah, teman-teman, jalan-jalan di kota, temui setiap orang di pintu rumahnya dan minta dia menyanyikan nama Hari dengan nama suci, dan kamu kemudian datanglah dan laporkan kepada-Ku setiap malam hasil dari pengajaranmu. Mendaapt perintah tersebut, kedua pengajar menjalankan perintah tersebut dan bertemu dengan Jagai dan Madhai, dua karakter yang paling keji. Mereka menghina para pengajar tersebut karena mendengar perintah/ajaran Mahaprabhu, tetapi mereka segera diampuni oleh pengaruh 'bhakti' (pengabdian) yang telah ditanamkan oleh Tuhan mereka. Orang-orang Nadia terkejut. Mereka berkata, 'Nimai Pandita bukan hanya seorang jenius yang terkenal, tetapi Beliau tentu saja adalah utusan dari Tuhan Yang Maha Esa.' Dari saat ini hingga tahun ke dua puluh tiga, Mahaprabhu mengajarkan prinsip-prinsip dan ajaran-Nya tidak hanya di Nadia tetapi di semua kota dan desa penting di sekitar Kotanya. Di rumah-rumah para pengikut-Nya, Dia menunjukkan keajaiban, mengajarkan prinsip-prinsip ‘bhakti’ dan menyanyikan ‘sankirtan’ -nya bersama para bhakta lainnya. Para pengikutnya di kota Nadia mulai menyanyikan nama suci Hari di jalan-jalan, pasar dan diberbagai tempat lainnya. Ini menciptakan sensasi dan membangkitkan perasaan yang berbeda di tempat yang berbeda. Para 'bhakta' sangat senang. 'Smarta brahmana' menjadi iri dengan keberhasilan Nimai Pandita dan mengeluh kepada Chand Kazi. Kazi datang ke rumah Srivasa Pandita dan memecahkan 'mrdanga' (drum 'khola') dan menyatakan bahwa Nimai Pandit harus segera berhenti menyebarkan ajaran2Nyayang telah membuat keributan dimana-mana, Chand Kazi berkewajiban untuk menegakkan hukum islam pada Caitanya Mahaprabhu dan pengikut-pengikutnya. Berita inipun akhirnya disampaikan kehadapan Caitanya Mahaprabhu. Beliau memerintahkan penduduk kota untuk datang di malam hari dan masing-masing membawa obor di tangannyadan Nimai berbaris dengan kelompok 'sankirtan' -nya yang dibagi dalam 14 kelompok, dan saat kedatangan-Nya di rumah Chand Kazi, Beliau mengadakan percakapan panjang dengan Chand Kazi dan pada akhirnya berkomunikasi ‘dalam hatinya’. Beliau selanjutnya menunjukkan pengaruh rohani-Nya dengan cara menyentuh tubuh Chand Kazi. Seketika itu pula Chand Kazi menangis dan mengakui bahwa dia telah merasakan pengaruh spiritual yang begitu kuat dan telah menghilangkan keragu-raguanya dan menghasilkan sentimen religius di dalam dirinya yang memberikan dampakrasa kebahagiaan tertinggi. Chand Kazi pun kemudian bergabung dengan pesta sankirtan tersebut. Dunia tercengang oleh kekuatan spiritual Tuhan Yang Maha Esa, dan ratusan orang pun bertobat dan bergabung dengan panji-panji Visvambhara setelah kejadian tersebut.
Setelah itu, beberapa 'brahmana' yang iri dan berpikiran rendah dari Kulia berusaha membuat keributan dengan Mahaprabhu dan mengumpulkan sekelompok orang yang ada dilingkungan sekitar untuk menentang-Nya. Nimai Pandita secara alami adalah orang yang berhati lembut, meskipun kuat dalam prinsip-prinsip-Nya. Beliau menyatakan bahwa perasaan sekelompok orang yang ada dilingkungan sekitar dan sektarianisme adalah dua musuh besar bagi kemajuan rohani dan Beliau menyadari bahwa selama Beliau berada dilingkungan tersebut, misinya tidak akan pernah berhasil sepenuhnya. Oleh sebab itu kemudian Beliau memutuskan untuk menjadi milik semua orang di dunia dengan cara memutuskan hubungan-Nya dengan keluarga terdekat-Nya, kasta dan keyakinan, dan dengan keputusan ini Beliau akhirnya mengambil posisi 'sannyasi' di Katwa, di bawah bimbingan Keshava Bharati, pada saat itu Beliau berusia 24 tahun. Ibu dan istri-Nya menangis sedih atas perpisahan-Nya, tetapi Caitanya Mahaprabhuadalah pahlawan kita semua, meskipun berhati lembut, pada prinsipnya Beliau adalah orang yang kuat. Beliau meninggalkan keluarga-Nya yang ada di rumah-Nya untuk meningkatkan kemajuan dunia spiritual terkait Kesadaran Krishna yang tak terbatas bersama umat manusia lainnya.
Setelah menerima 'sannyasa'-Nya, Beliau diundang untuk berkunjung ke rumah Advaita Prabhu di Santipura. Advaita berhasil mengundang semua teman dan pengagum-Nya dari Nadia dan membawa Sacidevi untuk melihat putranya. Rasa bahagia dan sedih bercampur menjadi satu di hati Ibu Saci ketika Beliau melihat putranya mengenakan pakaian 'sannyasi'. Sebagai ‘sannyasi’, Krishna Chaitanya tidak mengenakan apa-apa selain ‘kaupina’ (dua potong kain, satu kain pinggang) dan ‘bahirvasa’ (penutup luar). Kepalanya tanpa rambut, dan tangan-Nya membawa 'danda' (tongkat) dan 'kamandalu' (panci air pertapa). Caitanya Mahaprabhu bersujud di kaki ibu-Nya yang tercinta dan berkata, “Ibu! Tubuh ini milikmu, dan aku harus mematuhi perintahmu. Izinkan saya pergi ke Vrndavana untuk pencapaian spiritual saya. Dilain hal ”Sang ibu, dalam diskusi dengan Advaita dan yang lainnya, meminta putranya untuk tinggal di Puri (kota Jagannatha) sehingga Ibu Saci akan terus dapat memperoleh informasi tentang putranya. Mahaprabhu menyetujui saran dari Ibu-Nya dan dalam beberapa hari kemudian meninggalkan Santipura menuju ke Orissa. Penulis biografinya telah menggambarkan perjalanan Krishna Chaitanya (itulah nama yang ia dapatkan setelah 'sannyasa' -nya) dari Santipura ke Puri dengan sangat terperinci. Beliau melakukan perjalanan di sepanjang sisi Bhagirathi sejauh Chatrabhoga, yang sekarang terletak di Thana Mathurapura, Pelabuhan Diamond, 24 Parganas. Di sana Beliau naik perahu dan pergi ke Prayaga-ghata di Distrik Midnapura. Dari sana Beliau berjalan melalui Balasore dan Cuttack untuk menuju ke Puri, dan sempat melihat kuil Bhuvanesvara dalam perjalanan-Nya. Setelah kedatangannya di Puri, Beliau darshan dihadapan Jagannatha di kuil dan tinggal bersama Sarvabhauma. Sarvabhauma adalah 'pandita' yang snagat termahsyur saat itu. Bacaannya tidak mengenal batas. Dia adalah 'naiyayika' terbaik pada masa itu dan dikenal sebagai sarjana paling terpelajar dalam filsafat Vedanta dari sekolah Sankaracharya. Ia lahir di Nadia (Vidyanagara) dan mengajar murid-murid yang tak terhitung jumlahnya dalam filosofi 'nyaya' dalam tola-nya di sana. Dia telah pergi ke Puri beberapa waktu sebelum kelahiran Nimai Pandita. Adik iparnya Gopinatha Misra memperkenalkan sannyasi baru kepada Sarvabhauma, yang kagum pada keagungan pribadi-Nya dan merasa khawatir bahwa akan sulit bagi pemuda itu untuk mempertahankan ‘sannyasa-dharma’ selama masa hidupnya yang panjang. Gopinatha, yang telah mengenal Mahaprabhu dari Nadia, sangat menghormati-Nya dan menyatakan bahwa 'sannyasi' muda tersebut bukanlah manusia biasa.Pada titik ini Gopinatha dan Sarvabhauma berdiskusi agak tegang. Sarvabhauma kemudian meminta Mahaprabhu untuk mendengarkan apa yang dibacakan oleh Sarvabhauma tentang Vedanta-sutra. Chaitanya mendengarkan dengan tertunduk diam tentang apa yang dikatakan oleh Sarvabhauma agung selama tujuh hari, akhirnya Sarvabhauma berteriak, ‘Krishna-Chaitanya! Saya pikir Anda tidak dapat memahami Vedanta, karena Anda tidak mengatakan apapun setelah mendengar pembacaan dan penjelasan saya. 'Chaitanya memberikan jawaban bahwa Beliau memahami Vedanta sutra dengan sangat baik, tetapi Dia tidak dapat memahami apa yang dimaksud Sankaracharya oleh komentarnya. Terkejut karena hal ini, Sarvabhauma berkata, 'Bagaimana kamu bisa mengerti arti' sutra 'dan tidak mengerti komentar yang menjelaskan' sutra '? Semua adalah benar! Jika Anda memahami 'sutra', izinkan saya memiliki interpretasi Anda. 'oleh karena itu selanjutnya Mahaprabhu menjelaskan semua' sutra 'dengan cara Beliau sendiri tanpa menyentuh komentar panteistik Sankara. Sarvabhauma melihat kebenaran, keindahan, dan harmoni argumen dalam penjelasan yang diberikan oleh Chaitanya sehingga harus memaksa Beliau sendiri untuk mengatakan bahwa ini adalah pertama kalinya ia menemukan seseorang yang dapat menjelaskan sutra-sutra Brahma dengan cara yang begitu sederhana. Dia juga mengakui bahwa komentar Sankara tidak pernah memberikan penjelasan alamiah seperti sutra-sutra Veda seperti yang diperolehnya dari Mahaprabhu. Sarvabhauma kemudian menyerahkan dirinya sebagai pengikut Caitanya Mahaprabhu. Dalam beberapa hari Sarvabhauma menjadi salah satu Vaisnava terbaik saat itu. Ketika laporan tentang ini keluar, seluruh Orissa menyanyikan pujian kepada Krishna Chaitanya, dan ratusan orang datang kepada-Nya dan menjadi pengikut-Nya. Sementara itu Mahaprabhu berpikir untuk mengunjungi India Selatan, dan Dia mulai dengan seorang Brahmana yang bernama Krishnadasa untuk melakukan perjalanan tersebut.
Penulis biografinya telah menjelaskan secara detail perjalanan Beliau. Pertama-tama dia pergi ke Kurmaksetra, tempat dimana Lord Caitanya melakukan mukjizat dengan menyembuhkan seorang penderita kusta bernama Vasudeva. Dia bertemu Ramananda Raya, Gubernur Vidyanagara, di tepi Godavari dan melakukan pembicaraan filosofis dengannya tentang masalah 'prema-bhakti'. Beliau melakukan mukjizat lain dengan menyentuh (membuat mereka segera menghilang) ketujuh 'pohon tala' yang dilalui oleh Lord Ramachandra, putra Dasaratha, dimana ditempat itu Lord ramachandra telah mengarahkan anak panah-Nya dan membunuh Raja Bali yang agung. Lord Caitanya menyebarkan ajaran filsafat Vaisnava dan 'nama-sankirtana' di sepanjang perjalanan Beliau. Di Rangaksetra Beliau tinggal selama empat bulan di rumah salah satu Venkata Bhatta untuk melewati musim hujan. Di sana Beliau mengubah seluruh keluarga Venkata dari Ramanuja Vaisnavism menjadi Krishna-bhakti, bersama dengan putra Venkata, seorang bocah sepuluh tahun bernama Gopala, yang kemudian datang ke Vrndavana dan menjadi salah satu dari enam Goswami atau nabi yang melayani di bawah pemimpin mereka, Shri Krishna Chaitanya. Dilatih dalam bahasa Sanskerta oleh pamannya, Prabodhananda Sarasvati, Gopala menulis beberapa buku tentang filsafat Vaishnava.
Shri Chaitanya mengunjungi banyak tempat di India Selatan sejauh Cape Comorin dan kembali ke Puri dalam dua tahun oleh Pandepura di Bhima. Di tempat yang disebut terakhir ini, Beliau menobatkan seorang Tukarama, yang sejak saat itu menjadi pengajar rohani. Fakta ini telah diakui dalam 'adhangas' -nya, yang telah dikumpulkan dalam volume oleh Mr. Satyendra Nath Tagore, seorang Pegawai Negeri Sipil Bombay. Selama perjalanan-Nya, Beliau melakukan beberapa diskusi dengan umat Buddha, Jain, dan 'mayavadis' di beberapa tempat dan mempertobatkan lawan-lawan-Nya menjadi Vaishnava.
Sekembalinya ke Puri, Raja Prataparudra-deva dan beberapa 'pandita brahmanas' bergabung dengan spanduk Chaitanya Mahaprabhu. Usia Beliau sekarang dua puluh tujuh tahun. Pada tahun ke dua puluh delapan, Beliau pergi ke Bengal sejauh Gauda di Mald. Di sana Beliau mengambil dua tokoh besar bernama Rupa dan Sanatana. Meskipun diturunkan dari garis brahmana Karnatic, kedua bersaudara ini menjadi setengah Muslim karena mereka sering menjalin hubungan dengan Hussain Shah, kala itu Kaisar Gauda. Bahkan nama mereka telah diubah oleh Kaisar menjadi Dabir Khas dan Sakara Mallik, dan raja mereka sangat mencintai mereka karena mereka berdua belajar dalam bahasa Persia, Arab, dan Sanskerta dan merupakan pelayan negara yang setia. Kedua pria itu tidak menemukan cara untuk kembali sebagai orang Hindu biasa dan telah menulis surat kepada Mahaprabhu untuk bantuan spiritual ketika Beliau berada di Puri. Mahaprabhu telah menulis sebagai balasan bahwa Beliau akan datang kepada mereka dan membebaskan mereka dari kesulitan spiritual mereka. Sekarang setelah Beliau datang ke Gauda, kedua saudara itu tampil di hadapan-Nya dengan doa mereka yang sudah lama terpendam, selnajutnya Mahaprabhu memerintahkan mereka untuk pergi ke Vrndavana dan bertemu dengan-Nya di sana.
Chaitanya kembali ke Puri melalui Santipura, di mana Beliau kembali bertemu ibu-Nya yang terkasih. Setelah tinggal sebentar di Puri, Beliaua pergi ke Vrndavana. Kali ini Beliau ditemani oleh Balabhadra Bhattacharya. Beliau mengunjungi Vrndavana dan datang ke Prayag (Allahabad), mengubah sejumlah besar orang muslim menjadi Vaisnavisme dengan argumen dari Alquran. Keturunan dari orang yang bertobat tersebut masih dikenal sebagai Pathana Vaisnava. Rupa Goswami bertemu dengan Shri Krishna Caitnya di Allahabad. Chaitanya melatihnya dalam spiritualitas dalam sepuluh hari dan mengarahkannya untuk pergi ke Vrndavana dalam misi Beliau. Misi pertamanya adalah menulis karya-karya teologis yang menjelaskan 'bhakti' dan 'prema' yang murni ilmiah. Misi kedua adalah untuk menghidupkan kembali tempat-tempat di mana Krishnacandra pada akhir ‘Dvapara-yuga’ menunjukkan lila ’spiritual -nya untuk kepentingan dunia keagamaan. Rupa Goswami meninggalkan Allahabad menuju Vrndavana, dan Mahaprabhu turun ke Benares. Di sana Beliau tinggal di rumah Candrasekhara dan menerima 'bhiksa' (makanan) hariannya di rumah Tapana Misra. Di sinilah Sanatana Goswami bergabung dengannya dan menerima instruksi selama dua bulan dalam masalah spiritual. Para penulis biografi, terutama Krishnadasa Kaviraja, telah memberi rincian ajaran Shri Krishna Chaitanya kepada Rupa dan Sanatana. Krishnadasa bukan penulis kontemporer, tetapi ia mengumpulkan informasinya sendiri dari Goswamis, murid langsung Mahaprabhu. Jiva Goswami, yang adalah keponakan perempuan dari Sanatana dan Rupa dan yang telah mewariskan karya Sat-sandarbha yang tak ternilai harganya, telah berfilsafat berdasarkan ajaran pemimpinnya yang agung. Kami telah mengumpulkan dan merangkum ayat-ayat Chaitanya dari buku-buku para penulis hebat itu.
Saat berada di Benares, Chaitanya melakukan wawancara dengan para 'sannyasi' yang terpelajar dari kota itu di rumah seorang Maratha 'brahmana' yang telah mengundang semua 'sannyasis'. Pada wawancara ini, Chaitanya memberikan keajaiban yang menarik kepada semua 'sannyasi'. Kemudian terjadi percakapan timbal balik. 'Sannyasis' dipimpin oleh pemimpin mereka yang paling terpelajar, Prakasananda Sarasvati. Setelah terjadi kontroversi singkat, mereka memberikan hormat kepada Mahaprabhu dan mengakui bahwa mereka telah disesatkan oleh komentar Sankaracharya. Mustahil bahkan bagi para sarjana terpelajar untuk menentang Chaitanya, karena ada mantra di dalam ulasan Lord Caitanya yang menyentuh hati mereka dan membuat mereka menangis untuk kemajuan spiritual mereka. 'Sannyasis' Benares segera jatuh di kaki Chaitanya dan meminta karunia-Nya ('krpa'). Chaitanya kemudian memberitakan 'bhakti' murni dan menanamkan ke dalam hati mereka cinta spiritual untuk Krishna yang mengharuskan mereka untuk melepaskan perasaan sektarian. Seluruh populasi Benares, atas karunia yang menakjubkan dari 'sannyasi' ini, telah berubah menjadi kota Vaisnava, dan mereka menobatkan seorang master 'sankirtana' sebagai Tuhan baru mereka. Setelah mengirim Sanatana ke Vrndavana, Mahaprabhu pergi ke Puri lagi melalui hutan bersama kawannya Balabhadra. Balabhadra melaporkan bahwa Mahaprabhu telah menunjukkan banyak keajaiban dalam perjalanan-Nya ke Puri, seperti membuat harimau dan gajah menari ketika mendengar nama suci Tuhan Sri Krishna.
Sejak saat itu, yaitu, saat usia Lord Caitanya akan menginjak 31 tahun, Mahaprabhu terus-menerus tinggal di Puri, rumah Kasi Misra hingga saat berpulang Beliau ke Dunia rohani di tahun ke empatpuluh delapan pada saat Beliau melakukan sankirtana di kuil Tota-gopinatha. Selama 18 tahun ini, kehidupan Beliau penuh dengan rasa kasih saying dan kesalehan. Beliau dikelilingi oleh banyak pengikut, yang semuanya dari tingkat tertinggi Vaisnava dan yang dibedakan dari orang-orang biasa dengan karakter dan pembelajaran mereka yang paling murni, prinsip-prinsip agama yang kuat dan cinta spiritual Radha-Krishna. Svarupa Damodara, yang dikenal dengan nama Purusottamacharya ketika Mahaprabhu berada di Nadia, bergabung dengan-Nya dari Benares dan menerima pelayanan sebagai sekretaris-Nya. Tidak ada karya puisi dari penyair atau filsuf mana pun yang dapat diletakkan di hadapan Mahaprabhu kecuali karya Svarupa yang telah lulus secara murni dan bermanfaat. Raya Ramananda adalah pasangan kedua-Nya. Baik dia dan Svarupa akan bernyanyi sementara Mahaprabhu mengungkapkan perasaan-Nya pada suatu titik tertentu. Paramananda Puri adalah menteri-Nya dalam masalah agama. Mahaprabhu tertidur sejenak. Sentimennya membawa Dia jauh dan luas dalam cakrawala kerohanian setiap hari dan malam, dan semua pengagum dan pengikut-Nya memperhatikan Beliau. Beliau menyembah, berkomunikasi dengan pengikut-Nya di Vrndavana, dan bercakap-cakap dengan orang-orang religius yang baru datang untuk mengunjungi-Nya. Beliau bernyanyi dan menari, tidak mempedulikan diri-Nya dan kadang-kadang kehilangan control akan diri-Nya dalam kebahagiaan rohani. Semua yang datang kepada-Nya percaya bahwa Beliau adalah utusan Tuhan Sri Krishna yang maha indah yang muncul di dunia material demi kepentingan umat manusia. Beliau sangat mencintai ibu-Nya dan selalu mengirimi Ibu-Nya 'mahaprasada' dan kemudian bersama orang-orang yang pergi ke Nadia. Beliau paling ramah di Dunia ini. Kerendahan hati dipersonifikasikan di dalam diri Beliau. Penampilannya yang manis memberi semangat bagi semua yang berhubungan dengan-Nya. Beliau menunjuk Prabhu Nityananda sebagai pimpinan yang bertanggung jawab atas Bengal. Beliau mengirim enam murid (Goswamis) ke Vrndavana untuk mengabarkan cinta di pedalaman. Hal ini juga Beliau lakukan dalam kasus Haridasa Thakur. Beliau tidak pernah kekurangan dalam memberikan instruksi yang tepat dalam hidup kepada mereka yang menyerahkan diri. Ini akan terlihat dalam ajaran-Nya kepada Raghunatha dasa Goswami. Perlakuannya kepada Haridasa (senior) akan menunjukkan bagaimana Beliau mencintai orang yang benar-benar serius dalam kehidupan spiritual dan bagaimana Beliau menentang perbedaan kasta dalam persaudaraan spiritual.
Dikatakan bahwa ketika Beliau masih batita, masih dalam gendongan ibu-Nya, Beliau menangis terus-menerus, dan ketika mataji-mataji yang merupakan tetangga Ibu Saci berteriak 'Haribol' tangis Beliau seketika terhenti. Dengan kejadian tersebutteriakan 'Haribol' selalu bergema di rumah Beliau. Diceritakan pula bahwa ketika ibu Saci memberi Beliau makanan manis, Beliau malah makan tanah liat dan bukan makanan yang dipersembahkan Ibu Saci. Ibu Saci akhirnya bertanya alasan kenapa Nimai memakan tanah liat, Nimai hanya mengatakan bahwa karena setiap manisan tersebut tidak lain adalah tanah liat yang telah berubah, Beliau pun jadi terbiasa makan tanah liat. Ibu Saci, yang juga merupakan pendamping seorang 'pandita', menjelaskan bahwa setiap benda dalam keadaan tertentu disesuaikan dengan penggunaan tertentu pula. Contohnya seperti sebuah pot dari tanah liat, dapat digunakan sebagai pot air, tetapi apabila tanah liat itu dibentuk menjadi batu bata, maka batu bata itu tidak dapat digunakan sebagai wadah air, oleh karena itu tanah liat dalam bentuk manisan dapat digunakan sebagai makanan, tetapi tanah liat di negara bagian lain tidak. Dengan cara itulah Ibu Saci meyakinkan putranya untuk tidak lagi memakan tanah liat dan akhirnya Nimai pun menyadari kesalahanNya dan setuju untuk tidak mengulanginya dimasa depan. Tindakan menakjubkan lainnya yaitu diceritakan bahwa seorang brahmana yang sedang melakukan perjalanan sucinya menjadi tamu di rumah Beliau, Sang Brahmana memasak makanan dan membaca doa pujian dengan memusatkan meditasinya pada Tuhan Krishna. Tiba-tiba saja Nimai datang dan memakan nasi yang sudah dipersembahkan tersebut. 'Brahmana' tersebut tercengang melihat tindakan anak itu, kemudian dia memasak lagi atas permintaan Jagannatha Misra. Nimai kecil kembali memakan nasi yang dipersembahkanoleh 'brahmana' tersebut. 'Brahmana' itupun kembali dibujuk untuk memasak yang ketiga kalinya. Kali ini semua orang yang ada di rumah tersebut tertidur pulas, dan Nimai menunjukkan diri-Nya sebagai Krishna kepada para brahmana tersebut dan memberkatinya. 'Brahmana' tersebut kemudian merasakan kebahagian yang sangat luar biasa ketika melihat kemunculan wujud rohani objek yang Beliau puja selama ini.Diceritakan pula bahwa ketika ada dua orang pencuri yang inginmenculik Nimai dan mencuri perhiasan-perhiasan Jaganath Misra, dan disepanjang perjalanan pulangnya pencuri tersebut memberikan sejumlah manisan kepada Nimai. Selanjutnya Nimai menggunakan energi ilusinya dan menipu para pencuri tersebut, dimana seolah-olah pencuri tersebut tidak pergi kemanapun dan hanya kembali ke rumah Beliau sendiri. Setelah menyadari kejadian tersebut dan karena takut dipergoki niat jahatnya, akhirnya para pencuri itupun melarikan diri. Tindakan menakjubkan lainnya yang telah dijelaskan yaituNimai menuntut dan ingin mendapatkan semua persembahan yang telah dipersembahkan kepada Tuhan Sri Krishna dihari Ekadasi oleh Hiranya dan Jagadisa. Ketika baru berusia empat tahun, Nimai duduk di atas panci masak yang dianggap tidak suci oleh ibu-Nya. Nimai menjelaskan kepada ibu-Nya bahwa tidak perlu lagi ada pernyataan tentang kesucian dan ketidaksucian sehubungan dengan pot tanah yang dibuang setelah selesai memasak, semuanya sama. Cerita-cerita lucu ini berlangsung sampai usia Beliau lima tahun.
Pada usia 8 tahun, Beliau di sekolahkan didalam tola Gangadasa Pandita di Ganganagara dekat desa Mayapur. Dalam dua tahun Beliau bisa membaca dengan baik dalam tata bahasa dan ahli dalam berbicara Sanskerta. Beliau belajar sendiri secara alami di rumah-Nya sendiri, di mana Beliau telah menemukan semua buku-buku yang sangat penting milik ayah-Nya, yang merupakan seorang 'pandita'. Beliau juga membaca 'smrti'dan 'nyaya' dalam ruang belajarnya sendiri, dalam persaingan dengan teman-teman-Nya, yang kemudian belajar di bawah 'pandita' Raghunatha Siromani yang terkenal.
Sekarang, setelah usia 10 tahun, Chaitanya menjadi sarjana tata bahasa, ahli berbicara sanskerta dan membaca smrti ’dan‘ nyaya ’. Setelah itu, kakak laki-laki Beliau Visvarupa meninggalkan rumahnya untuk mejalani pelepasan ikatan dan menjadi seorang Sanyasi. Chaitanya, meskipun masih sangat muda, berusaha menghibur orang tua-Nya, dengan mengatakan bahwa Beliau akan melayani mereka seperti melayani Tuhan. Beberapa saat setelah itu, Jaganath Misraberpulang. Ibunya sangat berduka dan bersedih, dan Mahaprabhu, dengan penampilan Beliau yang tampak selalu berbahagia berusaha untuk menghibur ibu-Nya.
Pada usia 14 atau 15 tahun Mahaprabhu menikah dengan Laksmidevi, putri Vallabhacharya, yang juga berasal dari Nadia. Pada Usia ini Beliau dianggap sebagai salah satu cendekiawan yang terbaik di Nadia dan Beliau menjadi ketua filsafat ‘nyaya’terkenal dan pembelajaran bahasa Sanskerta. Semua pandita-pandita ahli filsafat ‘nyaya’ takut berhadapan dengan Beliau dalam diskusi sastra. Menjadi seorang Grhasta, Beliau pergi ke Benggala Timur di tepi Padma untuk mendapatkan kemakmuran yang diperlukan dalam kehidupan berumah tangga. Di sana Beliau menunjukkan ajaran-ajaran-Nya dan memperoleh sejumlah uang. Pada saat itulah Ia memberitakan filsafat Vaishnava secara berkala. Setelah mengajarkan tentang prinsip-prinsip Vaishnava, Beliau memberikan perintah kepada Tapanamisra untuk pergi dan tinggal di Benares. Sementara itu kediaman-Nya di Benggala Timur, istri Beliau, Laksmidevi harus berpulang karena terkena gigitan ular yang beracun. Saat Beliau kembali ke rumah, Beliau mendapati ibu-Nya dalam keadaan berkabung. Beliau menghiburnya dengan ulasan tentang ketidakpastian umur manusia. Selanjutnya, atas permintaan ibu-Nya Beliau menikahi Visnupriya, putri Raja Pandita Sanatana Misra. Teman-teman Beliau bergabung kembali dengan-Nya sekembalinya mereka dari pravasa atau Sojourn. Beliau kini menjadi sangat terkenal sehingga Beliau dianggap sebagai pandita terbaik di Nadia. Kesava Misra dari Kashmir, yang menyebut dirinya Digvijayi Hebat, datang ke Nadia dengan maksud untuk berdiskusi dengan para pandita yang ada dikawasan Nadia. Mendengar kedatangan Kesava Misra dan karena takut berdiskusi dengan Kesava Misra, para ahli pandita tola Nadia pun pergi meninggalkan kota mereka dengan alasan ada undangan di tempat lain. Akhirnya Kesava Misra bertemu Mahaprabhu di Barokona-ghata di Mayapur, dan setelah diskusi yang sangat singkat dengan Kesava Misra, Kesava Misra pun dikalahkan oleh ‘Anak kecil’ itu, dan Kesava Misra pun mejadi sangat malu dan harus pergi meninggalkan Nadia secara diam-diam. Nimai Pandita pun sekarang menjadi 'pandita' yang paling Agung dan termashyur di zaman-Nya.
Pada usia 16 atau 17 tahun Beliau melakukan perjalanan suci-Nya ke Gaya dengan sejumlah siswa-siswa Beliau dan di tempat inilah Beliau mengambil inisiasi spiritual-Nya kepada Shri Ishvara Puri, seorang Vaisnava ‘sannyasi’ dan seorang murid kesayangan dari Shri Madhavendra Puri yang sangat termahsyur. Sekembalinya ke Nadia, Nimai Pandita menjadi Pengajar Spiritual, dan sifat religius-Nya menjadi sangat kuat sehingga Advaita Prabhu, Srivasa, dan lainnya yang lebih senior dari Beliau yang telah menerima keyakinan Vaisnava tercengang dengan perubahan pemuda itu. Dia kemudian tidak lagi menjadi 'naiyayika' yang bersaing, 'smarta' yang bertengkar, dan seorang ahli diskusi yang suka mengkritik. Beliautidak sadarkan diri karena mendengar nama suci Tuhan Sri Krishna dan Beliau berperilaku seperti orang yang sangat berpengaruh dalam kerohanian. Murari Gupta, yang merupakan salah satu dari saksi mata saat lila Lord Caitanya, menjelaskan bahwa Beliau menunjukkan kuasa rohani-Nya di rumah Srivasa Pandita di hadapan ratusan pengikut-Nya, yang kebanyakan adalah para sarjana terpelajar. Pada saat itulah Beliau membuka sekolah 'kirtana' di kompleks Srivasa Pandita dengan pengikut-pengikut-Nya yang tulus. Di sana Beliau memberikan pengajaran, bernyanyi, menari, dan di sanalah Beliau mengekspresikan segala macam perasaan rohani Beliau. Nityananda Prabhu, yang saat itu adalah seorang pengajar spiritual Vaishnava dan yang kemudian menyelesaikan perjalanan suci-Nya ke seluruh India, saat itu ikut bergabung dengan Caitanya Mahaprabhu. Bahkan, banyak pengajar-pengajar rohani 'pandita' Vaisnavisme yang berasal dari berbagai daerah dikawasan bengal, yang semuanya memiliki sifat tulus hati, datang dan bergabung dengan Lord Caitanya Mahaprabhu. Nadia sekarang menjadi lokasi reguler dari sejumlah Vaisnava ‘acharyas’ yang misinya adalah untuk meningkatkan kualitas spiritual umat manusia dengan pengaruh tertinggi dari ajaran Vaishnava.
Mandat pertama yang Beliau berikan untuk NityanandaPrabhu dan Haridasa adalah sebagai berikut: 'Pergilah, teman-teman, jalan-jalan di kota, temui setiap orang di pintu rumahnya dan minta dia menyanyikan nama Hari dengan nama suci, dan kamu kemudian datanglah dan laporkan kepada-Ku setiap malam hasil dari pengajaranmu. Mendaapt perintah tersebut, kedua pengajar menjalankan perintah tersebut dan bertemu dengan Jagai dan Madhai, dua karakter yang paling keji. Mereka menghina para pengajar tersebut karena mendengar perintah/ajaran Mahaprabhu, tetapi mereka segera diampuni oleh pengaruh 'bhakti' (pengabdian) yang telah ditanamkan oleh Tuhan mereka. Orang-orang Nadia terkejut. Mereka berkata, 'Nimai Pandita bukan hanya seorang jenius yang terkenal, tetapi Beliau tentu saja adalah utusan dari Tuhan Yang Maha Esa.' Dari saat ini hingga tahun ke dua puluh tiga, Mahaprabhu mengajarkan prinsip-prinsip dan ajaran-Nya tidak hanya di Nadia tetapi di semua kota dan desa penting di sekitar Kotanya. Di rumah-rumah para pengikut-Nya, Dia menunjukkan keajaiban, mengajarkan prinsip-prinsip ‘bhakti’ dan menyanyikan ‘sankirtan’ -nya bersama para bhakta lainnya. Para pengikutnya di kota Nadia mulai menyanyikan nama suci Hari di jalan-jalan, pasar dan diberbagai tempat lainnya. Ini menciptakan sensasi dan membangkitkan perasaan yang berbeda di tempat yang berbeda. Para 'bhakta' sangat senang. 'Smarta brahmana' menjadi iri dengan keberhasilan Nimai Pandita dan mengeluh kepada Chand Kazi. Kazi datang ke rumah Srivasa Pandita dan memecahkan 'mrdanga' (drum 'khola') dan menyatakan bahwa Nimai Pandit harus segera berhenti menyebarkan ajaran2Nyayang telah membuat keributan dimana-mana, Chand Kazi berkewajiban untuk menegakkan hukum islam pada Caitanya Mahaprabhu dan pengikut-pengikutnya. Berita inipun akhirnya disampaikan kehadapan Caitanya Mahaprabhu. Beliau memerintahkan penduduk kota untuk datang di malam hari dan masing-masing membawa obor di tangannyadan Nimai berbaris dengan kelompok 'sankirtan' -nya yang dibagi dalam 14 kelompok, dan saat kedatangan-Nya di rumah Chand Kazi, Beliau mengadakan percakapan panjang dengan Chand Kazi dan pada akhirnya berkomunikasi ‘dalam hatinya’. Beliau selanjutnya menunjukkan pengaruh rohani-Nya dengan cara menyentuh tubuh Chand Kazi. Seketika itu pula Chand Kazi menangis dan mengakui bahwa dia telah merasakan pengaruh spiritual yang begitu kuat dan telah menghilangkan keragu-raguanya dan menghasilkan sentimen religius di dalam dirinya yang memberikan dampakrasa kebahagiaan tertinggi. Chand Kazi pun kemudian bergabung dengan pesta sankirtan tersebut. Dunia tercengang oleh kekuatan spiritual Tuhan Yang Maha Esa, dan ratusan orang pun bertobat dan bergabung dengan panji-panji Visvambhara setelah kejadian tersebut.
Setelah itu, beberapa 'brahmana' yang iri dan berpikiran rendah dari Kulia berusaha membuat keributan dengan Mahaprabhu dan mengumpulkan sekelompok orang yang ada dilingkungan sekitar untuk menentang-Nya. Nimai Pandita secara alami adalah orang yang berhati lembut, meskipun kuat dalam prinsip-prinsip-Nya. Beliau menyatakan bahwa perasaan sekelompok orang yang ada dilingkungan sekitar dan sektarianisme adalah dua musuh besar bagi kemajuan rohani dan Beliau menyadari bahwa selama Beliau berada dilingkungan tersebut, misinya tidak akan pernah berhasil sepenuhnya. Oleh sebab itu kemudian Beliau memutuskan untuk menjadi milik semua orang di dunia dengan cara memutuskan hubungan-Nya dengan keluarga terdekat-Nya, kasta dan keyakinan, dan dengan keputusan ini Beliau akhirnya mengambil posisi 'sannyasi' di Katwa, di bawah bimbingan Keshava Bharati, pada saat itu Beliau berusia 24 tahun. Ibu dan istri-Nya menangis sedih atas perpisahan-Nya, tetapi Caitanya Mahaprabhuadalah pahlawan kita semua, meskipun berhati lembut, pada prinsipnya Beliau adalah orang yang kuat. Beliau meninggalkan keluarga-Nya yang ada di rumah-Nya untuk meningkatkan kemajuan dunia spiritual terkait Kesadaran Krishna yang tak terbatas bersama umat manusia lainnya.
Setelah menerima 'sannyasa'-Nya, Beliau diundang untuk berkunjung ke rumah Advaita Prabhu di Santipura. Advaita berhasil mengundang semua teman dan pengagum-Nya dari Nadia dan membawa Sacidevi untuk melihat putranya. Rasa bahagia dan sedih bercampur menjadi satu di hati Ibu Saci ketika Beliau melihat putranya mengenakan pakaian 'sannyasi'. Sebagai ‘sannyasi’, Krishna Chaitanya tidak mengenakan apa-apa selain ‘kaupina’ (dua potong kain, satu kain pinggang) dan ‘bahirvasa’ (penutup luar). Kepalanya tanpa rambut, dan tangan-Nya membawa 'danda' (tongkat) dan 'kamandalu' (panci air pertapa). Caitanya Mahaprabhu bersujud di kaki ibu-Nya yang tercinta dan berkata, “Ibu! Tubuh ini milikmu, dan aku harus mematuhi perintahmu. Izinkan saya pergi ke Vrndavana untuk pencapaian spiritual saya. Dilain hal ”Sang ibu, dalam diskusi dengan Advaita dan yang lainnya, meminta putranya untuk tinggal di Puri (kota Jagannatha) sehingga Ibu Saci akan terus dapat memperoleh informasi tentang putranya. Mahaprabhu menyetujui saran dari Ibu-Nya dan dalam beberapa hari kemudian meninggalkan Santipura menuju ke Orissa. Penulis biografinya telah menggambarkan perjalanan Krishna Chaitanya (itulah nama yang ia dapatkan setelah 'sannyasa' -nya) dari Santipura ke Puri dengan sangat terperinci. Beliau melakukan perjalanan di sepanjang sisi Bhagirathi sejauh Chatrabhoga, yang sekarang terletak di Thana Mathurapura, Pelabuhan Diamond, 24 Parganas. Di sana Beliau naik perahu dan pergi ke Prayaga-ghata di Distrik Midnapura. Dari sana Beliau berjalan melalui Balasore dan Cuttack untuk menuju ke Puri, dan sempat melihat kuil Bhuvanesvara dalam perjalanan-Nya. Setelah kedatangannya di Puri, Beliau darshan dihadapan Jagannatha di kuil dan tinggal bersama Sarvabhauma. Sarvabhauma adalah 'pandita' yang snagat termahsyur saat itu. Bacaannya tidak mengenal batas. Dia adalah 'naiyayika' terbaik pada masa itu dan dikenal sebagai sarjana paling terpelajar dalam filsafat Vedanta dari sekolah Sankaracharya. Ia lahir di Nadia (Vidyanagara) dan mengajar murid-murid yang tak terhitung jumlahnya dalam filosofi 'nyaya' dalam tola-nya di sana. Dia telah pergi ke Puri beberapa waktu sebelum kelahiran Nimai Pandita. Adik iparnya Gopinatha Misra memperkenalkan sannyasi baru kepada Sarvabhauma, yang kagum pada keagungan pribadi-Nya dan merasa khawatir bahwa akan sulit bagi pemuda itu untuk mempertahankan ‘sannyasa-dharma’ selama masa hidupnya yang panjang. Gopinatha, yang telah mengenal Mahaprabhu dari Nadia, sangat menghormati-Nya dan menyatakan bahwa 'sannyasi' muda tersebut bukanlah manusia biasa.Pada titik ini Gopinatha dan Sarvabhauma berdiskusi agak tegang. Sarvabhauma kemudian meminta Mahaprabhu untuk mendengarkan apa yang dibacakan oleh Sarvabhauma tentang Vedanta-sutra. Chaitanya mendengarkan dengan tertunduk diam tentang apa yang dikatakan oleh Sarvabhauma agung selama tujuh hari, akhirnya Sarvabhauma berteriak, ‘Krishna-Chaitanya! Saya pikir Anda tidak dapat memahami Vedanta, karena Anda tidak mengatakan apapun setelah mendengar pembacaan dan penjelasan saya. 'Chaitanya memberikan jawaban bahwa Beliau memahami Vedanta sutra dengan sangat baik, tetapi Dia tidak dapat memahami apa yang dimaksud Sankaracharya oleh komentarnya. Terkejut karena hal ini, Sarvabhauma berkata, 'Bagaimana kamu bisa mengerti arti' sutra 'dan tidak mengerti komentar yang menjelaskan' sutra '? Semua adalah benar! Jika Anda memahami 'sutra', izinkan saya memiliki interpretasi Anda. 'oleh karena itu selanjutnya Mahaprabhu menjelaskan semua' sutra 'dengan cara Beliau sendiri tanpa menyentuh komentar panteistik Sankara. Sarvabhauma melihat kebenaran, keindahan, dan harmoni argumen dalam penjelasan yang diberikan oleh Chaitanya sehingga harus memaksa Beliau sendiri untuk mengatakan bahwa ini adalah pertama kalinya ia menemukan seseorang yang dapat menjelaskan sutra-sutra Brahma dengan cara yang begitu sederhana. Dia juga mengakui bahwa komentar Sankara tidak pernah memberikan penjelasan alamiah seperti sutra-sutra Veda seperti yang diperolehnya dari Mahaprabhu. Sarvabhauma kemudian menyerahkan dirinya sebagai pengikut Caitanya Mahaprabhu. Dalam beberapa hari Sarvabhauma menjadi salah satu Vaisnava terbaik saat itu. Ketika laporan tentang ini keluar, seluruh Orissa menyanyikan pujian kepada Krishna Chaitanya, dan ratusan orang datang kepada-Nya dan menjadi pengikut-Nya. Sementara itu Mahaprabhu berpikir untuk mengunjungi India Selatan, dan Dia mulai dengan seorang Brahmana yang bernama Krishnadasa untuk melakukan perjalanan tersebut.
Penulis biografinya telah menjelaskan secara detail perjalanan Beliau. Pertama-tama dia pergi ke Kurmaksetra, tempat dimana Lord Caitanya melakukan mukjizat dengan menyembuhkan seorang penderita kusta bernama Vasudeva. Dia bertemu Ramananda Raya, Gubernur Vidyanagara, di tepi Godavari dan melakukan pembicaraan filosofis dengannya tentang masalah 'prema-bhakti'. Beliau melakukan mukjizat lain dengan menyentuh (membuat mereka segera menghilang) ketujuh 'pohon tala' yang dilalui oleh Lord Ramachandra, putra Dasaratha, dimana ditempat itu Lord ramachandra telah mengarahkan anak panah-Nya dan membunuh Raja Bali yang agung. Lord Caitanya menyebarkan ajaran filsafat Vaisnava dan 'nama-sankirtana' di sepanjang perjalanan Beliau. Di Rangaksetra Beliau tinggal selama empat bulan di rumah salah satu Venkata Bhatta untuk melewati musim hujan. Di sana Beliau mengubah seluruh keluarga Venkata dari Ramanuja Vaisnavism menjadi Krishna-bhakti, bersama dengan putra Venkata, seorang bocah sepuluh tahun bernama Gopala, yang kemudian datang ke Vrndavana dan menjadi salah satu dari enam Goswami atau nabi yang melayani di bawah pemimpin mereka, Shri Krishna Chaitanya. Dilatih dalam bahasa Sanskerta oleh pamannya, Prabodhananda Sarasvati, Gopala menulis beberapa buku tentang filsafat Vaishnava.
Shri Chaitanya mengunjungi banyak tempat di India Selatan sejauh Cape Comorin dan kembali ke Puri dalam dua tahun oleh Pandepura di Bhima. Di tempat yang disebut terakhir ini, Beliau menobatkan seorang Tukarama, yang sejak saat itu menjadi pengajar rohani. Fakta ini telah diakui dalam 'adhangas' -nya, yang telah dikumpulkan dalam volume oleh Mr. Satyendra Nath Tagore, seorang Pegawai Negeri Sipil Bombay. Selama perjalanan-Nya, Beliau melakukan beberapa diskusi dengan umat Buddha, Jain, dan 'mayavadis' di beberapa tempat dan mempertobatkan lawan-lawan-Nya menjadi Vaishnava.
Sekembalinya ke Puri, Raja Prataparudra-deva dan beberapa 'pandita brahmanas' bergabung dengan spanduk Chaitanya Mahaprabhu. Usia Beliau sekarang dua puluh tujuh tahun. Pada tahun ke dua puluh delapan, Beliau pergi ke Bengal sejauh Gauda di Mald. Di sana Beliau mengambil dua tokoh besar bernama Rupa dan Sanatana. Meskipun diturunkan dari garis brahmana Karnatic, kedua bersaudara ini menjadi setengah Muslim karena mereka sering menjalin hubungan dengan Hussain Shah, kala itu Kaisar Gauda. Bahkan nama mereka telah diubah oleh Kaisar menjadi Dabir Khas dan Sakara Mallik, dan raja mereka sangat mencintai mereka karena mereka berdua belajar dalam bahasa Persia, Arab, dan Sanskerta dan merupakan pelayan negara yang setia. Kedua pria itu tidak menemukan cara untuk kembali sebagai orang Hindu biasa dan telah menulis surat kepada Mahaprabhu untuk bantuan spiritual ketika Beliau berada di Puri. Mahaprabhu telah menulis sebagai balasan bahwa Beliau akan datang kepada mereka dan membebaskan mereka dari kesulitan spiritual mereka. Sekarang setelah Beliau datang ke Gauda, kedua saudara itu tampil di hadapan-Nya dengan doa mereka yang sudah lama terpendam, selnajutnya Mahaprabhu memerintahkan mereka untuk pergi ke Vrndavana dan bertemu dengan-Nya di sana.
Chaitanya kembali ke Puri melalui Santipura, di mana Beliau kembali bertemu ibu-Nya yang terkasih. Setelah tinggal sebentar di Puri, Beliaua pergi ke Vrndavana. Kali ini Beliau ditemani oleh Balabhadra Bhattacharya. Beliau mengunjungi Vrndavana dan datang ke Prayag (Allahabad), mengubah sejumlah besar orang muslim menjadi Vaisnavisme dengan argumen dari Alquran. Keturunan dari orang yang bertobat tersebut masih dikenal sebagai Pathana Vaisnava. Rupa Goswami bertemu dengan Shri Krishna Caitnya di Allahabad. Chaitanya melatihnya dalam spiritualitas dalam sepuluh hari dan mengarahkannya untuk pergi ke Vrndavana dalam misi Beliau. Misi pertamanya adalah menulis karya-karya teologis yang menjelaskan 'bhakti' dan 'prema' yang murni ilmiah. Misi kedua adalah untuk menghidupkan kembali tempat-tempat di mana Krishnacandra pada akhir ‘Dvapara-yuga’ menunjukkan lila ’spiritual -nya untuk kepentingan dunia keagamaan. Rupa Goswami meninggalkan Allahabad menuju Vrndavana, dan Mahaprabhu turun ke Benares. Di sana Beliau tinggal di rumah Candrasekhara dan menerima 'bhiksa' (makanan) hariannya di rumah Tapana Misra. Di sinilah Sanatana Goswami bergabung dengannya dan menerima instruksi selama dua bulan dalam masalah spiritual. Para penulis biografi, terutama Krishnadasa Kaviraja, telah memberi rincian ajaran Shri Krishna Chaitanya kepada Rupa dan Sanatana. Krishnadasa bukan penulis kontemporer, tetapi ia mengumpulkan informasinya sendiri dari Goswamis, murid langsung Mahaprabhu. Jiva Goswami, yang adalah keponakan perempuan dari Sanatana dan Rupa dan yang telah mewariskan karya Sat-sandarbha yang tak ternilai harganya, telah berfilsafat berdasarkan ajaran pemimpinnya yang agung. Kami telah mengumpulkan dan merangkum ayat-ayat Chaitanya dari buku-buku para penulis hebat itu.
Saat berada di Benares, Chaitanya melakukan wawancara dengan para 'sannyasi' yang terpelajar dari kota itu di rumah seorang Maratha 'brahmana' yang telah mengundang semua 'sannyasis'. Pada wawancara ini, Chaitanya memberikan keajaiban yang menarik kepada semua 'sannyasi'. Kemudian terjadi percakapan timbal balik. 'Sannyasis' dipimpin oleh pemimpin mereka yang paling terpelajar, Prakasananda Sarasvati. Setelah terjadi kontroversi singkat, mereka memberikan hormat kepada Mahaprabhu dan mengakui bahwa mereka telah disesatkan oleh komentar Sankaracharya. Mustahil bahkan bagi para sarjana terpelajar untuk menentang Chaitanya, karena ada mantra di dalam ulasan Lord Caitanya yang menyentuh hati mereka dan membuat mereka menangis untuk kemajuan spiritual mereka. 'Sannyasis' Benares segera jatuh di kaki Chaitanya dan meminta karunia-Nya ('krpa'). Chaitanya kemudian memberitakan 'bhakti' murni dan menanamkan ke dalam hati mereka cinta spiritual untuk Krishna yang mengharuskan mereka untuk melepaskan perasaan sektarian. Seluruh populasi Benares, atas karunia yang menakjubkan dari 'sannyasi' ini, telah berubah menjadi kota Vaisnava, dan mereka menobatkan seorang master 'sankirtana' sebagai Tuhan baru mereka. Setelah mengirim Sanatana ke Vrndavana, Mahaprabhu pergi ke Puri lagi melalui hutan bersama kawannya Balabhadra. Balabhadra melaporkan bahwa Mahaprabhu telah menunjukkan banyak keajaiban dalam perjalanan-Nya ke Puri, seperti membuat harimau dan gajah menari ketika mendengar nama suci Tuhan Sri Krishna.
Sejak saat itu, yaitu, saat usia Lord Caitanya akan menginjak 31 tahun, Mahaprabhu terus-menerus tinggal di Puri, rumah Kasi Misra hingga saat berpulang Beliau ke Dunia rohani di tahun ke empatpuluh delapan pada saat Beliau melakukan sankirtana di kuil Tota-gopinatha. Selama 18 tahun ini, kehidupan Beliau penuh dengan rasa kasih saying dan kesalehan. Beliau dikelilingi oleh banyak pengikut, yang semuanya dari tingkat tertinggi Vaisnava dan yang dibedakan dari orang-orang biasa dengan karakter dan pembelajaran mereka yang paling murni, prinsip-prinsip agama yang kuat dan cinta spiritual Radha-Krishna. Svarupa Damodara, yang dikenal dengan nama Purusottamacharya ketika Mahaprabhu berada di Nadia, bergabung dengan-Nya dari Benares dan menerima pelayanan sebagai sekretaris-Nya. Tidak ada karya puisi dari penyair atau filsuf mana pun yang dapat diletakkan di hadapan Mahaprabhu kecuali karya Svarupa yang telah lulus secara murni dan bermanfaat. Raya Ramananda adalah pasangan kedua-Nya. Baik dia dan Svarupa akan bernyanyi sementara Mahaprabhu mengungkapkan perasaan-Nya pada suatu titik tertentu. Paramananda Puri adalah menteri-Nya dalam masalah agama. Mahaprabhu tertidur sejenak. Sentimennya membawa Dia jauh dan luas dalam cakrawala kerohanian setiap hari dan malam, dan semua pengagum dan pengikut-Nya memperhatikan Beliau. Beliau menyembah, berkomunikasi dengan pengikut-Nya di Vrndavana, dan bercakap-cakap dengan orang-orang religius yang baru datang untuk mengunjungi-Nya. Beliau bernyanyi dan menari, tidak mempedulikan diri-Nya dan kadang-kadang kehilangan control akan diri-Nya dalam kebahagiaan rohani. Semua yang datang kepada-Nya percaya bahwa Beliau adalah utusan Tuhan Sri Krishna yang maha indah yang muncul di dunia material demi kepentingan umat manusia. Beliau sangat mencintai ibu-Nya dan selalu mengirimi Ibu-Nya 'mahaprasada' dan kemudian bersama orang-orang yang pergi ke Nadia. Beliau paling ramah di Dunia ini. Kerendahan hati dipersonifikasikan di dalam diri Beliau. Penampilannya yang manis memberi semangat bagi semua yang berhubungan dengan-Nya. Beliau menunjuk Prabhu Nityananda sebagai pimpinan yang bertanggung jawab atas Bengal. Beliau mengirim enam murid (Goswamis) ke Vrndavana untuk mengabarkan cinta di pedalaman. Hal ini juga Beliau lakukan dalam kasus Haridasa Thakur. Beliau tidak pernah kekurangan dalam memberikan instruksi yang tepat dalam hidup kepada mereka yang menyerahkan diri. Ini akan terlihat dalam ajaran-Nya kepada Raghunatha dasa Goswami. Perlakuannya kepada Haridasa (senior) akan menunjukkan bagaimana Beliau mencintai orang yang benar-benar serius dalam kehidupan spiritual dan bagaimana Beliau menentang perbedaan kasta dalam persaudaraan spiritual.
(Bhaktivinoda Thakura. 20th August 1896.)
mohon maaf kalau masih terdapat kata-kata yang tidak pas ya... haribolo.. happy Gaura Purnima...

Komentar
Posting Komentar