PERSAINGAN RSI VISVAMITRA DENGAN RSI VASISHTA
Awal Persaingan dengan Vasiṣṭha
Pada mulanya, Viśvāmitra bukanlah seorang resi, melainkan seorang raja besar bernama Raja Kauśika. Suatu hari ia bersama pasukan dan pengiringnya mengunjungi āśrama Resi Vasiṣṭha.
Meskipun kedatangan mereka sangat banyak, Vasiṣṭha mampu menjamu seluruh rombongan dengan mewah. Raja Kauśika sangat heran. Ternyata Vasiṣṭha memiliki seekor sapi surgawi bernama Kāmadhenu (atau Nandinī) yang dapat menghasilkan segala kebutuhan.
Melihat keajaiban itu, Kauśika ingin memiliki sapi tersebut. Ia menawarkan harta dan kerajaan sebagai ganti, tetapi Vasiṣṭha menolak karena sapi itu digunakan untuk pelayanan rohani.
Kauśika kemudian berusaha merebutnya dengan paksa. Namun kekuatan rohani Vasiṣṭha jauh melampaui kekuatan militer.Dengan menggoyang-goyangkan badannya ribuan pasukan surgawi keluar dari badan Kamadenu. Pasukan Kauśika dihancurkan, dan sang raja mengalami kekalahan yang memalukan.
Saat itu ia menyadari:
"Kekuatan seorang brahmana lebih tinggi daripada kekuatan seorang raja."
Sejak saat itu ia bertekad meninggalkan kerajaannya dan melakukan tapa yang sangat berat untuk mencapai kedudukan yang sama atau bahkan lebih tinggi daripada Vasiṣṭha.
Menjadi Rajarsi dan Rsi Besar
Viśvāmitra bertapa selama ribuan tahun menurut perhitungan para dewa. Karena ketekunannya, ia memperoleh berbagai siddhi (kesaktian) dan dihormati sebagai Rājarṣi (raja yang menjadi resi).
Tetapi Viśvāmitra belum puas.
Ia menginginkan pengakuan dari Vasiṣṭha sebagai Brahmarṣi, tingkatan tertinggi seorang resi.
Namun Vasiṣṭha berulang kali mengatakan bahwa Viśvāmitra masih memiliki sisa-sisa kesombongan, kemarahan, dan ambisi.
Hal ini membuat Viśvāmitra semakin giat bertapa.
Indra Khawatir
Di surga, Dewa Indra sering merasa khawatir ketika seorang resi melakukan tapa yang luar biasa. Banyak kisah menceritakan bahwa kekuatan tapa dapat mengguncang kedudukan para dewa.
Ketika tapa Viśvāmitra semakin kuat, Indra mulai cemas.
Ia kemudian memanggil seorang apsara tercantik di surga bernama Menakā.
Menakā sebenarnya takut mengganggu seorang pertapa besar, tetapi Indra memerintahkannya turun ke bumi.
Menakā Menggoda Viśvāmitra
Menakā turun ke tempat pertapaan Viśvāmitra di pegunungan Himalaya.
Suatu hari ketika Viśvāmitra sedang bermeditasi, angin bertiup lembut. Bunyi gelang kaki Menakā terdengar merdu. Kecantikannya luar biasa sehingga bahkan para dewa mengaguminya.
Menurut beberapa versi kisah, Indra juga mengirim Dewa Angin untuk membantu menciptakan suasana yang menggoda.
Perlahan perhatian Viśvāmitra teralihkan,dia jatuh dari tapanya akhirnya mereka menikah.
Setelah bertahun-tahun hidup bersama dalam kebahagiaan duniawi, Viśvāmitra melupakan pertapaannya.
Barulah kemudian ia sadar bahwa semua itu merupakan ujian yang menyebabkan kemajuan spiritualnya tertunda.
Ia tidak marah kepada Menakā, tetapi menyadari bahwa dirinya masih belum sepenuhnya menguasai indria dan pikirannya.
Dengan tenang ia meninggalkan kehidupan keluarga dan kembali bertapa.
Kelahiran Śakuntalā
Dari hubungan Viśvāmitra dan Menakā lahirlah seorang putri bernama Śakuntalā.
Setelah Viśvāmitra kembali bertapa dan Menakā kembali ke surga, bayi itu ditinggalkan di tepi hutan.
Bayi tersebut dijaga oleh sekawanan burung yang disebut śakunta.
Ketika Resi Kaṇva menemukan bayi itu, beliau berkata:
"Anak ini dilindungi oleh burung-burung śakunta."
Karena itu ia diberi nama Śakuntalā.
Resi Kaṇva membesarkannya di āśrama sebagai putrinya sendiri.
Śakuntalā dan Raja Duṣyanta
Ketika dewasa, Śakuntalā tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik dan saleh.
Suatu hari Raja Duṣyanta datang berburu ke hutan dan bertemu dengannya.
Mereka saling jatuh cinta dan menikah menurut tata cara gandharva-vivaha, yaitu pernikahan berdasarkan persetujuan kedua belah pihak.
Setelah itu Duṣyanta kembali ke kerajaannya.
Dalam kisah Mahābhārata dan drama terkenal Abhijñānaśākuntalam karya Kālidāsa, terjadi berbagai peristiwa yang menyebabkan Duṣyanta sempat tidak mengakui Śakuntalā. Namun akhirnya mereka dipersatukan kembali.
Kelahiran Bharata
Dari pernikahan itu lahirlah seorang putra bernama Bharata.
Bharata tumbuh menjadi raja yang sangat perkasa.
Sejak kecil ia terkenal berani. Dikisahkan ia bermain dengan singa dan harimau tanpa rasa takut.
Ketika dewasa, Bharata menjadi cakravarti, penguasa besar yang memerintah wilayah luas.
Karena kebesaran Raja Bharata, negeri ini kemudian dikenal sebagai:
Bhārata-varṣa — tanah Bharata.
Nama ini masih digunakan dalam tradisi Veda untuk menyebut India.
Dalam silsilah kerajaan Bharata kemudian lahir para raja besar, termasuk garis keturunan yang akhirnya menghasilkan para tokoh Mahābhārata seperti para Kuru, Pāṇḍava, dan Korava.
Viśvāmitra Akhirnya Menjadi Brahmarṣi
Meskipun pernah gagal karena godaan Menakā, Viśvāmitra tidak menyerah.
Ia melakukan tapa yang lebih berat lagi selama bertahun-tahun. Ia juga harus mengatasi kemarahan, kesombongan, dan keinginan akan penghormatan.
Setelah melalui banyak ujian, akhirnya sifat-sifat duniawinya lenyap.
Ketika Vasiṣṭha melihat kemurnian hati Viśvāmitra yang sempurna, beliau akhirnya berkata:
"Engkau benar-benar seorang Brahmarṣi."
Pengakuan dari Vasiṣṭha inilah yang selama ini dicari Viśvāmitra.
Dengan demikian seorang raja ksatria berhasil mencapai kedudukan tertinggi seorang resi melalui ketekunan, pertobatan, dan pengendalian diri.
Kisah ini sering dijadikan pelajaran bahwa bahkan kegagalan besar dalam kehidupan spiritual tidak harus menjadi akhir perjalanan. Viśvāmitra pernah jatuh karena godaan Menakā, tetapi dengan ketekunan ia bangkit kembali dan akhirnya mencapai kesempurnaan sebagai Brahmarṣi.

Komentar
Posting Komentar