SAUBHARI MUNI MENGUTUK GARUDA

 


SAUBHARI MUNI MENGUTUK GARUDA

Saubhari Muni Bertapa di Dasar Sungai Yamuna
Ada seorang resi besar bernama Saubhari Muni. Beliau adalah seorang yogi yang sangat tekun dan ingin mencapai kesempurnaan spiritual melalui tapa dan meditasi yang mendalam.
Berbeda dengan para yogi lainnya yang bertapa di hutan atau pegunungan, Saubhari Muni memilih bertapa di dalam air, di dasar Sungai Yamuna. Bertahun-tahun beliau duduk bermeditasi di sana, menahan napas dan mengendalikan indria-indrianya.
Karena hidup lama di dalam sungai, Saubhari Muni melihat kehidupan ikan-ikan yang berenang di sekelilingnya. Lama-kelamaan tumbuh rasa kasih yang sangat besar terhadap mereka.
Garuda Datang Mencari Makanan
Pada suatu hari, Garuda, tumggangsn Sri Visnu, datang ke Sungai Yamuna untuk mencari makanan.
Menurut ketentuan alam semesta, Garuda memang memakan ular dan berbagai makhluk air tertentu. Itu adalah bagian dari tugas dan sifat alamiahnya.
Saat itu Garuda memakan beberapa ekor ikan,melihat hal tersebut Saubhari Muni marah melarang Garuda mengambil ikan disana, agar tidak perlu menangkap banyak ikan melihat seekor ikan besar, pemimpin kawanan ikan di sungai tersebut. Dengan kecepatan luar biasa ia menyambar ikan itu dan membawanya pergi.
Ikan-ikan lain menjadi ketakutan dan berlarian ke segala arah.
Kemarahan Saubhari Muni
Melihat kejadian itu, Saubhari Muni merasa sangat sedih dan marah.
Beliau berpikir:
"Garuda telah membunuh makhluk-makhluk yang hidup damai di tempat ini. Aku harus melindungi mereka."
Karena kekuatan tapa yang dimilikinya sangat besar, Saubhari Muni kemudian mengucapkan kutukan kepada Garuda:
"Jika Garuda datang lagi ke tempat ini untuk mengambil ikan atau makhluk yang hidup di Yamuna ini, maka ia akan mati saat itu juga."
Kutukan seorang yogi besar memiliki kekuatan luar biasa. Namun dalam kemarahannya, Saubhari Muni melakukan kesalahan besar.
Kesalahan Mengutuk sosok Vaisnava Agung
Dalam pandangan Vaisnava, Garuda bukanlah burung biasa.
Ia adalah pelayan abadi Sri Visnu, penyembah murni yang senantiasa melayani Tuhan. Karena itu mengutuk Garuda dianggap sebagai vaisnava-aparadha, yaitu kesalahan terhadap seorang penyembah murni.
Saubhari Muni memang memiliki kekuatan tapa, tetapi beliau tidak memahami sepenuhnya kedudukan rohani Garuda.
Para acarya menjelaskan bahwa kemajuan spiritual seseorang dapat rusak apabila ia menghina atau menyakiti seorang bhakta murni.
Walaupun Garuda tidak membalas kutukan tersebut, akibat aparadha itu kemudian memengaruhi kehidupan Saubhari Muni.
Kaliya Memanfaatkan Kesempatan Itu
Di tempat lain hiduplah seekor naga beracun bernama Kaliya.
Sebelumnya Kaliya tinggal di pulau Ramanaka. Namun karena kesombongannya, ia bermusuhan dengan Garuda.
Pada umumnya para naga memberikan persembahan tertentu kepada Garuda. Kaliya menolak dan bahkan menentangnya.
Akibatnya Garuda sering menyerangnya.
Ketika mengetahui bahwa ada suatu bagian Sungai Yamuna yang tidak dapat didatangi Garuda karena kutukan Saubhari Muni, Kaliya segera pindah ke sana.
Ia berpikir:
"Di tempat ini aku aman. Garuda tidak akan datang."
Kaliya kemudian tinggal di sebuah danau di Yamuna yang kemudian terkenal sebagai Kaliya-daha.
Sungai Menjadi Beracun
Racun Kaliya begitu dahsyat sehingga air sungai menjadi hitam dan berbusa
Burung yang terbang di atasnya dapat jatuh mati karena uap racunnya.
Pepohonan di sekitarnya mengering.
Makhluk hidup yang mendekat pun mati keracunan.
Dengan demikian, usaha Saubhari Muni untuk melindungi makhluk-makhluk sungai justru secara tidak langsung membuka jalan bagi Kaliya untuk merusak seluruh wilayah itu.
Kelak, Krsna datang dan menari di atas kepala-kepala Kaliya, menaklukkannya serta mengusirnya dari Yamuna.
Kemunduran Spiritual Saubhari Muni
Waktu berlalu. Saubhari Muni tetap bertapa di dalam air.
Namun suatu hari beliau melihat sepasang ikan yang sedang hidup bahagia bersama anak-anak mereka.
Pemandangan sederhana itu mengguncang pikirannya.
Beliau mulai membayangkan kehidupan berumah tangga.
Keinginan yang selama ini tersembunyi muncul kembali.
Dari sini kita belajar bahwa pengendalian indria yang hanya berdasarkan pengekangan lahiriah belum tentu berarti hati telah sepenuhnya bebas dari keinginan material.
Datang kepada Raja Mandhata
Saubhari Muni kemudian keluar dari pertapaannya dan mendatangi Raja Mandhata.
Beliau meminta salah satu putri raja untuk dinikahi.
Masalahnya, saat itu tubuh Saubhari Muni sudah tua, kurus, penuh keriput, rambut kusut, dan tampak seperti pertapa yang sangat lanjut usia.
Raja Mandhata menjadi bingung.
Ia tidak ingin menolak seorang resi sakti, tetapi juga tidak yakin putri-putrinya mau menikah dengannya.
Akhirnya raja berkata:
"Biarkan putri-putriku memilih sendiri."
Dalam hati raja berpikir bahwa tidak akan ada satu pun yang memilih Saubhari Muni.
Menjadi Sangat Tampan
Dengan kekuatan yoga mistiknya, Saubhari Muni mengubah penampilannya.
Ia muncul sebagai pemuda yang luar biasa tampan, bercahaya, gagah, dan menawan.
Ketika memasuki istana putri-putri raja, sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Bukan hanya satu putri yang memilihnya.
Kelima puluh putri raja semuanya ingin menikah dengannya.
Akhirnya Saubhari Muni menikahi seluruh 50 putri tersebut.
Kehidupan Mewah
Dengan kekuatan yoganya, Saubhari Muni menciptakan 50 istana yang megah.
Masing-masing istri merasa bahwa suaminya selalu berada bersamanya.
Taman-taman indah, danau, pelayan, musik, dan berbagai kemewahan mengelilingi kehidupan mereka.
Dari seorang pertapa yang hidup di dasar sungai, Saubhari kini tenggelam dalam kenikmatan duniawi.
Kesadaran dan Pertobatan
Setelah bertahun-tahun menikmati kehidupan material, Saubhari Muni akhirnya menyadari:
"Aku meninggalkan kehidupan rohani demi kenikmatan yang sementara."
Beliau menjadi sangat menyesal.
Kemudian beliau meninggalkan kehidupan duniawi dan kembali menekuni kehidupan spiritual.
Yang mengagumkan, kelima puluh istrinya juga mengikuti jejaknya.
Mereka bersama-sama menjalani kehidupan rohani dan akhirnya mencapai tujuan spiritual yang tinggi.
Pelajaran Penting dari Kisah Ini
Menghina atau menentang seorang bhakta murni dapat menghalangi kemajuan spiritual.
Kekuatan tapa tidak selalu berarti seseorang telah bebas dari keinginan material.
Kemarahan, bahkan atas nama belas kasih, dapat membawa akibat yang tidak diinginkan.
Keinginan material yang tersimpan dapat muncul kembali bila hati belum sepenuhnya dimurnikan.
Meskipun seseorang jatuh dari kedudukannya, dengan pertobatan yang tulus ia masih dapat kembali menempuh jalan rohani.
Karena itu para guru Vaisnava sering menggunakan kisah Saubhari Muni sebagai contoh bahwa bhakti kepada Tuhan dan penghormatan kepada para Vaisnava lebih penting daripada sekadar kekuatan tapa, yoga, atau kesaktian mistik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SRI NITYANANDA

SHRI RASIKANANDA

KEMUNCULAN SHRI ADVAITA ACHARYA