PRALAYA (PELEBURAN) ALAM SEMESTA DIBAGI MENJADI 3 TAHAPAN

 


PRALAYA (PELEBURAN) ALAM SEMESTA DIBAGI MENJADI 3 TAHAPAN

Penjelasan ini terutama bersumber dari Śrīmad Bhāgavatam (Skandha 3 dan 12), Viṣṇu Purāṇa, Bhagavad-gītā, dan penjelasan para ācārya.

1. Peleburan pada akhir setiap Manvantara (Manvantara-pralaya)

        Kapan terjadi?
Terjadi pada akhir pemerintahan satu Manu.Satu hari Brahmā terdiri dari 14 Manvantara.
Durasi Satu Manvantara berlangsung sekitar: 71 Mahā-yuga + masa peralihan (sandhyā).
Totalnya sekitar 306.720.000 tahun manusia.
        Apa yang dilebur?
Ini bukan penghancuran total.
Yang mengalami kehancuran terutama: Sebagian besar umat manusia. Banyak kerajaan.
Sebagian makhluk hidup. Terjadi perubahan besar pada bumi.
Jabatan Indra, Manu, dan para dewa diganti.
        Namun :
Bhūrloka tetap ada. Planet-planet atas tetap ada. Matahari, bulan, dan tata surya tetap berjalan.
Bagaimana prosesnya?
Biasanya terjadi: peperangan besar, bencana alam, banjir, perubahan iklim,pergantian para penguasa alam semesta.
Kemudian Brahmā mengangkat Manu berikutnya.

Sumber
Śrīmad Bhāgavatam Skandha 8
Viṣṇu Purāṇa Buku 3

2. Peleburan pada malam Brahmā (Naimittika-pralaya)

Ini jauh lebih besar. Terjadi setiap kali Brahmā tidur.
Durasi Malam Brahmā berlangsung: 1.000 Mahā-yuga = 4,32 miliar tahun manusia.
Selama itu Brahmā tidur.
        Alam mana yang dilebur?
Menurut Śrīmad Bhāgavatam:
Yang tenggelam adalah: Bhūrloka (bumi) Bhuvarloka ,Svargaloka
Ketiga tingkat ini ditutupi air.
Sedangkan:
Maharloka tidak hancur sepenuhnya, tetapi para resi pindah ke Janaloka karena panas api pralaya.
Janaloka,Tapoloka,Satyaloka tetap ada.
        Bagaimana prosesnya?
Urutannya dijelaskan demikian.
    1. Matahari menjadi sangat panas.
        Tidak turun hujan selama waktu yang sangat lama.
        Semua tumbuhan mati. Semua sungai mengering.
    2. Api Saṅkarṣaṇa (Ananta Śeṣa)
        Api keluar dari mulut Ananta Śeṣa. Api membakar seluruh planet bawah.
        Kemudian membakar Bhūrloka.
    3. Angin pralaya
        Angin dahsyat bertiup.
    4. Hujan luar biasa
        Awan Saṁvartaka muncul. Hujan turun terus selama bertahun-tahun.
        Seluruh Bhūrloka, Bhuvarloka, dan Svargaloka tenggelam.
    5. Brahmā tidur
        Semua makhluk berada dalam keadaan tidak aktif sampai Brahmā bangun kembali.

Sumber
Śrīmad Bhāgavatam 3.11
Śrīmad Bhāgavatam 12.4
Viṣṇu Purāṇa Buku 6

3. Peleburan pada akhir umur Brahmā (Prākṛtika-pralaya atau Mahā-pralaya)

Ini adalah peleburan terbesar. Terjadi setelah Brahmā hidup: 100 tahun Brahmā.
Durasi umur Brahmā 100 tahun Brahmā ≈ 311,04 triliun tahun manusia.
Sesudah itu seluruh alam semesta material dilebur.
        Alam mana yang dilebur?
Semuanya. Mulai dari: Bhūrloka Bhuvarloka Svargaloka Maharloka Janaloka Tapoloka Satyaloka
Bahkan: Brahmā sendiri, semua dewa, semua unsur material kembali ke keadaan tidak termanifestasi (pradhāna).
Yang tidak pernah hancur adalah dunia rohani (Vaikuṇṭha dan Goloka Vṛndāvana).
        Bagaimana prosesnya?
Śrīmad Bhāgavatam menjelaskan proses bertahap:
    Tahap 1
                Kemarau sangat panjang.
                Tidak turun hujan.
                Semua kehidupan mati.
    Tahap 2
                Tujuh matahari seolah-olah muncul.
                Panas luar biasa membakar seluruh alam.
    Tahap 3
                Api dari mulut Ananta Śeṣa membakar semua planet.
    Tahap 4
                Angin pralaya bertiup sangat lama.
    Tahap 5
                Awan Saṁvartaka turun.
                Hujan selama ratusan tahun.
                Seluruh alam semesta menjadi lautan.
    Tahap 6
                Unsur-unsur material saling melebur:
                bumi masuk ke air,
                air masuk ke api,
                api masuk ke udara,
                udara masuk ke eter,
                eter masuk ke ahankāra,
                ahankāra masuk ke mahat-tattva,
                mahat-tattva masuk ke pradhāna (alam material yang belum termanifestasi).
Akhirnya hanya Mahā-Viṣṇu yang tetap ada, dan seluruh alam semesta beristirahat di dalam-Nya sampai penciptaan berikutnya.

Ringkasan : Jenis pralaya, Kapan ,Durasi, Yang dilebur, 

Manvantara-pralaya
Akhir setiap Manvantara Setiap ±306,72 juta tahun manusia
Perubahan besar di bumi; makhluk dan pemerintahan berganti, tetapi alam semesta tetap ada.

Naimittika-pralaya
Setiap malam Brahmā 4,32 miliar tahun manusia
Bhūrloka, Bhuvarloka, dan Svargaloka tenggelam; Maharloka dikosongkan sementara;
Janaloka ke atas tetap ada.

Prākṛtika/Mahā-pralaya
Akhir umur Brahmā
Setelah 311,04 triliun tahun manusia
Seluruh alam semesta material, termasuk Satyaloka dan Brahmā, kembali ke pradhāna;
hanya alam rohani yang kekal.

Sumber utama
Śrīmad Bhāgavatam 3.11 (perhitungan waktu kosmis)
Śrīmad Bhāgavatam 12.4 (uraian rinci tentang pralaya)
Viṣṇu Purāṇa, Buku 1 dan Buku 6 (penciptaan dan peleburan alam semesta)
Bhagavad-gītā 8.17–19, yang menjelaskan siklus siang dan malam Brahmā, ketika alam semesta termanifestasi dan kemudian tidak termanifestasi kembali.

Peran Dewa Siva dalam peleburan.

        1. Mengapa Śiva disebut pelebur?
Dalam Trimūrti : Brahmā bertugas menciptakan alam semesta (sṛṣṭi).
                          Viṣṇu memelihara alam semesta (sthiti).
                          Śiva (Rudra) melaksanakan peleburan (saṁhāra).
Namun ketiga tugas ini berlangsung atas kehendak Tuhan Yang Mahatinggi.
Dalam Bhāgavatam dijelaskan bahwa Brahmā, Viṣṇu, dan Śiva menjalankan fungsi-fungsi kosmis sesuai penugasan-Nya.

        2. Apa yang dilakukan Śiva ketika pralaya?
Perannya berbeda-beda menurut jenis pralaya.
a. Pada akhir Manvantara
    Śiva tidak selalu menjadi pelaku utama.
    Yang lebih menonjol adalah bencana alam, banjir, dan pergantian Manu.
b. Pada Naimittika-pralaya (malam Brahmā)
    Di sinilah peran Rudra mulai tampak jelas.
Śrīmad Bhāgavatam menjelaskan bahwa:
        matahari memancarkan panas luar biasa,
        api keluar dari mulut Ananta Śeṣa (Saṅkarṣaṇa),
        api itu membakar alam semesta.
    Pada saat itu Rudra juga menjalankan tugas peleburan, sehingga seluruh makhluk dalam tiga             dunia kembali ke keadaan tidak aktif.
c. Pada Mahā-pralaya
    Peran Śiva menjadi jauh lebih dahsyat.
    Pada akhir usia Brahmā:
                                Rudra memperlihatkan wujud semestanya
                                Api peleburan melalap seluruh alam material.
Setelah semua unsur material kembali melebur ke dalam pradhāna, tugas Rudra pun selesai.
Akhirnya seluruh alam semesta beristirahat di dalam Mahāviṣṇu sampai penciptaan berikutnya.

3. Apakah Śiva menghancurkan dengan kemarahan?
    Tidak selalu.
    Dalam kitab-kitab Purāṇa, peleburan bukanlah tindakan kebencian,
    melainkan bagian dari siklus kosmis.
Sebagaimana musim gugur membuat daun-daun berguguran agar tumbuh tunas baru, demikian pula pralaya memberi jalan bagi penciptaan berikutnya.
Karena itu, Śiva juga disebut Śaṅkara, "pembawa kesejahteraan". Peleburan yang beliau lakukan merupakan bagian dari keteraturan alam semesta.

4. Dari mana muncul Rudra?
    Śrīmad Bhāgavatam Skandha 3 menceritakan bahwa ketika Brahmā sedang menciptakan alam            semesta, dari kemarahannya lahirlah seorang anak yang menangis. Brahmā menamainya Rudra         ("yang menangis"). Kemudian Rudra berkembang menjadi sebelas bentuk (Ekādaśa Rudra) yang         membantu menjalankan fungsi peleburan.
    Selain itu, dalam banyak Purāṇa dijelaskan bahwa Sadāśiva merupakan manifestasi ilahi yang            memiliki kedudukan sangat istimewa, melampaui Rudra yang menjalankan fungsi kosmis di alam         material.
5. Bagaimana pandangan Vaiṣṇava terhadap Śiva?
    Tradisi Vaiṣṇava sangat menghormati Śiva.
    Śrīmad Bhāgavatam (12.13.16) menyatakan : vaiṣṇavānāṁ yathā śambhuḥ
    "Di antara semua Vaiṣṇava, Śambhu (Śiva) adalah yang terbesar."
Artinya, Śiva dipandang sebagai penyembah agung Bhagavān Viṣṇu/Kṛṣṇa sekaligus penguasa guṇa tamo dalam pengelolaan alam material.

Śrīla Jīva Gosvāmī memberikan perumpamaan yang terkenal:
Susu yang dicampur sedikit zat asam berubah menjadi yogurt. Yogurt berasal dari susu, tetapi tidak sama dengan susu. Demikian pula Śiva mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Viṣṇu, namun menjalankan fungsi dan kedudukan yang khas.

Kesimpulan
Peran Dewa Śiva sebagai pelebur bukan sekadar "menghancurkan", melainkan mengakhiri satu siklus penciptaan agar siklus berikutnya dapat dimulai. Beliau melaksanakan tugas tersebut sesuai kehendak Bhagavān, dengan membimbing proses kembalinya alam material ke keadaan asalnya. Dalam pandangan Vaiṣṇava, fungsi ini adalah tugas yang sangat mulia dan penting bagi keseimbangan semesta 🙏
Dalam tradisi Gauḍīya Vaiṣṇava, para ācārya seperti Śrīla Jīva Gosvāmī dan Śrīla A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupāda juga menjelaskan bahwa Goloka Vṛndāvana dan Vaikuṇṭha tidak pernah tersentuh pralaya, sehingga para penyembah murni Tuhan yang telah mencapai alam rohani tidak lagi mengalami siklus penciptaan dan peleburan alam semesta material.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NAMA SUCI TUHAN DAPAT MENYEBRANGKAN DARI LAUTAN PENDERITAAN.

SRI NITYANANDA

SHRI RASIKANANDA