KARUNIA TERTINGGI
Awal Kisah
Dahulu ada seorang brahmana miskin yang merupakan penyembah setia Dewa Siwa. Ia hidup dalam kemiskinan, tetapi tetap melakukan pemujaan dan tapa dengan penuh ketulusan.
Bertahun-tahun ia memuja Dewa Siwa sambil berdoa:
"Wahai Mahadeva, berikanlah kepadaku karunia tertinggi yang dapat mengakhiri penderitaanku."
Karena puas dengan pengabdiannya, Dewa Siwa menampakkan diri dan berkata:
"Aku dapat memberikan banyak anugerah, tetapi jika engkau menginginkan harta yang paling berharga, pergilah menemui seorang penyembah murni Tuhan bernama Sanatana Gosvami yang tinggal di Vrindavan."
Brahmana itu heran.
"Mengapa aku harus menemui seorang vaisnava? Bukankah Engkau sendiri adalah Mahadeva?"
Siwa tersenyum dan menjawab:
"Karena kekayaan yang dimiliki seorang penyembah murni jauh lebih tinggi daripada apa pun yang dapat diberikan dunia material."
Pertemuan dengan Sanatana Gosvami
Brahmana itu melakukan perjalanan panjang menuju Vrindavan. Setelah beberapa waktu ia menemukan Sanatana Gosvami yang hidup sangat sederhana di tepi Sungai Yamuna.
Tubuh Sanatana kurus karena pertapaan. Pakaiannya sederhana. Beliau tidak memiliki rumah mewah maupun harta benda.
Brahmana itu berpikir:
"Bagaimana mungkin orang miskin seperti ini memiliki kekayaan terbesar?"
Namun ia tetap menyampaikan pesan dari Dewa Siwa.Setelah mendengar penuturan brahmana tersebut,
Sanatana Gosvami sejenak mengingat sesuatu lalu berkata:
"Oh ya, aku pernah menemukan sebuah batu cintāmaṇi. Karena tidak berguna bagiku, aku meletakkannya di tumpukan sampah di belakang gubuk. Ambillah jika engkau menginginkannya."
Brahmana itu terkejut.
Batu Cintāmaṇi
Ia pergi ke tempat sampah yang ditunjukkan Sanatana dan benar saja, di sana terdapat batu cintāmaṇi yang legendaris.
Konon batu itu dapat mengubah besi menjadi emas dan memenuhi berbagai keinginan material.
Brahmana itu sangat gembira.
"Kini hidupku berubah!"
Ia segera membawa batu itu dan berjalan pulang.
Timbul Keraguan
Namun di tengah perjalanan pikirannya mulai bekerja.
"Jika batu yang begitu berharga dibuang di tempat sampah, pasti Sanatana Gosvami memiliki sesuatu yang jauh lebih bernilai."
Semakin dipikirkan, semakin ia merasa gelisah.
Akhirnya ia kembali ke Vrindavan dan menemui Sanatana.
Meminta Harta yang Lebih Tinggi
Ia meletakkan batu cintāmaṇi di hadapan Sanatana Gosvami dan berkata:
"Tuan, saya tidak menginginkan batu ini. Saya ingin memperoleh harta yang membuat Anda menganggap batu ajaib ini tidak lebih berharga daripada sampah."
Sanatana Gosvami merasa sangat senang mendengar permintaan itu.
Beliau berkata:
"Jika engkau benar-benar menginginkan harta tersebut, buanglah dahulu batu cintāmaṇi itu ke Sungai Yamuna."
Tanpa ragu brahmana itu melemparkan batu tersebut ke sungai.
Karunia Tertinggi
Setelah itu Sanatana Gosvami memberikan ajaran bhakti dan memintanya untuk senantiasa mengucapkan Nama Suci Tuhan.
Dalam beberapa versi cerita, beliau memberikan mantra japa:
Hare Krishna Hare Krishna
Krishna Krishna Hare Hare
Hare Rama Hare Rama
Rama Rama Hare Hare
Beliau menjelaskan bahwa cinta kasih kepada Tuhan (prema-bhakti) adalah permata sejati yang jauh melampaui emas, kerajaan, surga, ataupun kesaktian mistis.
Brahmana itu mulai menjalani kehidupan bhakti dengan tulus. Sedikit demi sedikit hatinya dipenuhi kebahagiaan rohani yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Makna Kisah
Dalam tradisi Vaisnava, kisah ini mengajarkan bahwa:
Dewa Siwa adalah vaisnava terbesar (Vaiṣṇavānām yathā Śambhuḥ) dan sering mengarahkan para pencarinya kepada bhakti murni.
Kekayaan materi, bahkan yang ajaib seperti batu cintāmaṇi, tetap bersifat sementara.
Nama Suci Tuhan dan bhakti murni adalah harta yang tidak dapat hilang oleh waktu, kematian, atau perubahan nasib.
Seorang guru sejati memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada kekayaan duniawi: hubungan cinta dengan Tuhan.
Karena itu kisah ini sering dikutip untuk menunjukkan bahwa apa yang dianggap sangat berharga oleh dunia bisa tampak seperti sampah bagi seorang santo yang telah menemukan permata bhakti kepada Tuhan.

Komentar
Posting Komentar